| RIWAYAT
HIDUP BUDDHA GOTAMA
PENCAPAIAN PENCERAHAN SEMPURNA
Setelah Petapa Gotama menerima persembahan nasi susu
dari Sujata di pagi hari, pada hari keempat belas bulan Vesak, 588 S.M,
Bodhisatta kemudian pergi menuju hutan sala di tepi Sungai Neranjara.
Di sana Ia beristirahat sejenak dan melewati sisa hari itu di bawah
naungan rindang sebatang pohon sãla sambil berkonsentrasi dalam
anapana bhavana. Pada senja sore hari itu, kala udara terasa sejuk dan
angin berhembus sepoi-sepoi, Ia menuju ke Hutan Gaya, ke kaki pohon
bodhi (Pali: assattha; Latin: Ficus religiosa).
Dalam perjalanan, Ia bertemu dengan seorang penyabit
rumput bernama Sotthiya, yang tengah datang dan arah yang berlawanan
seraya memikul rumput. Dia sangat terkesan oleh penampilan agung Petapa
Gotama. Setelah tahu bahwa Petapa Gotama memerlukan sedikit rumput,
dia lalu mempersembahkan delapan genggam rumput kusa kepada-Nya.
Sesampainya di pohon bodhi, Petapa Gotama memeriksa
sekeliling untuk mencari tempat yang sesuai untuk bermeditasi. Setelah
itu, Petapa Gotama duduk bersilang kaki dengan menghadap ke timur. Ia
menyatakan tekad-Nya yang bulat: “Walaupun hanya kulit, urat daging,
dan tulang-Ku yang tertinggal! Biarpun seluruh tubuh, daging, dan darah-Ku
mengering dan berkerut! Aku tidak akan bangkit dari tempat duduk ini
kecuali dan sampai Aku mencapai Kebuddhaan!”
Setelah mengalami pergulatan batin yang berat selama
beberapa waktu, akhirnya Petapa Gotama berhasil menundukkan rasa ngeri,
keinginan duniawi, niat buruk, dan kekejaman. Kemenangan-Nya atas pergulatan
batin ditandai dengan berjajarnya bulan purnama yang tengah menyingsing
di ufuk timur dengan bulatan merah matahari yang tengah terbenam di
ufuk barat. Bodhisatta akhirnya mengetahui bahwa itulah saat yang tepat
untuk meneruskan perjuangan-Nya mencapai Pencerahan Agung. Pada malam
bulan purnama, bulan Vesak, 588 M, Bodhisatta tetap duduk tenang memusatkan
perhatian-Nya.
Setelah Ia memasuki jhana pertama, kedua, ketiga dan
keempat dalam meditasi-Nya, pikiran-Nya yang terkonsentrasi menjadi
murni, cermelang, tanpa noda, tanpa cacat, mudah ditempa, mudah dikendalikan,
serta tak tergoyahkan. Saat itu Ia mengarahkan pikiran-Nya dan mencapai
tiga pengetahuan.
Pengetahuan pertama merupakan pengetahuan melihat dengan
jelas dan rinci kelahiran-kelahiran-Nya yang terdahulu (pubbenivasanussati
ñana). Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara
jam 18.00 sampai 22.00.
Pengetahuan kedua merupakan pengetahuan melihat dengan
jelas kematian dan tumimbal lahir kembali makhluk hidup (dibbacakkhu
ñana). Ia melihat makhluk-makhluk lenyap dan muncul kembali dalam
kondisi rendah dan mulia, cantik dan buruk, mujur dan sial. Hal ini
terjadi pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00 sampai 02.00.
Pengetahuan ketiga merupakan pengetahuan akan penghancuran
noda (asavakkhaya ñãna). Ia mengetahui secara langsung
segala sesuatu sebagaimana adanya. Ia menyadari dan mencerap bahwa pikiran-Nya
terbebas dari noda keinginan indrawi, noda kehidupan, dan noda kebodohan
batin. Dan ketika Ia terbebas, muncullah pengetahuan bahwa Ia telah
terbebas. Ia menyadari langsung bahwa kelahiran-Nya sudah dihancurkan;
hidup suci sudah dijalankan; apa yang harus dilakukan sudah dilakukan;
tiada lagi kelahiran kembali di alam mana pun juga. Hal ini terjadi
pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00 sampai 04.00. Ia mengetahui
bahwa “inilah penderitaan”, bahwa “inilah sumber penderitaan”,
bahwa “inilah berakhirnya penderitaan”, dan bahwa “inilah
jalan menuju akhirnya penderitaan”.
Dengan tercapainya Pengetahuan Sejati Ketiga maka Bodhisatta
mencapai Arahatta-Magga, menjadi Yang Sadar (Buddha), Yang Terberkahi
(Bhagava), Yang Tercerahkan Sempurna (Sammasambuddha). Seiring dengan
Pencerahan-Nya, Buddha juga memperoleh penegtahuan sempurna tentang
Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani).
Demikianlah menjelang fajar pada hari bulan purnama,
Vesak 588 S.M, pada usia tiga puluh lima tahun, Bodhisatta mencapai
Kemahatahuan dan menjadi Buddha dari tiga dunia dengan usaha-Nya sendiri.
UNGKAPAN KEBAHAGIAAN
Dengan tercapainya Pencerahan Sempurna, Sang Buddha
mengungkapkan kebahagiaan-Nya dengan melontarkan dua bait syair nyanyian
pujian kebahagiaan (udana).
“Tak terhingga kali kelahiran telah Kulalui
Untuk mencari, namun tak Kutemukan, pembuat rumah ini.
Sungguh menyedihkan, terlahir berulang kali!”
“O pembuat rumah! Sekarang engkau telah terlihat!
Engkau tak dapat membuat rumah lagi!
Semua kasaumu telah dihancurkan!
Batang bubunganmu telah diruntuhkan!
Kini batin-Ku telah mencapai Yang Tak Terkondisi!
Tercapai sudah berakhirnya nafsu keinginan!”
Menjalani Pertapaan << Prev -
1 2
3 4
5 6
7 8
- Next >> Pemutaran Roda Dhamma
|