Saddhā – Keyakinan dalam Agama Buddha

Saddha (Pali: saddhā; Skt: śraddhā)  adalah keyakinan berdasarkan pengetahuan dari hasil verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan awal berupa hipotesis (anggapan benar) terhadap ajaran (konsep, gagasan, dll.) yang terbentuk karena keterbatasan bukti dan merupakan titik awal yang perlu ditindaklanjuti.

Kata saddhā memiliki makna dan pengertian yang tidak sederhana, dan tidak memiliki padanan kata yang tepat dan sesuai dalam kosakata bahasa lain untuk menggantikannya.  Untuk itu saddhā tidak bisa hanya sekedar diartikan sebagai “keyakinan”. Saddhā bukanlah keyakinan membuta yaitu kepercayaan terhadap sesuatu sebagai kebenaran tanpa verifikasi dan yang tidak memicu tindak lanjut berupa usaha membuktikan sesuatu itu.

Saddhā juga bukanlah iman (Inggris: faith) dalam agama atau kepercayaan lain, karena saddhā memerlukan penindakan selanjutnya berupa pembuktian dan tidak berdasarkan pada kepercayaan membuta serta rasa takut. Untuk itu penerjemahan saddhā sebagai iman (Inggris: faith) dipertanyakan dan ditentang para sarjana bahasa Pāli Agama Buddha.[1] Dan alih-alih diterjemahkan sebagai iman, saddhā diterjemahkan sebagai kepercayaan diri (Inggris: confidence).

Iman dalam agama atau kepercayaan lain adalah rasa percaya yang berdasarkan pada ketakutan terhadap apa yang dianggap sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dan juga tanpa diawali dengan verifikasi serta tidak memerlukan penindakan selanjutnya berupa pembuktian. Dalam iman, apa yang dipercaya dianggap sebagai kebenaran, dan cenderung berkeyakinan membuta.

Sebagai contoh mengenai iman: dalam suatu agama tertentu menyatakan bahwa seseorang harus memiliki iman kepada tuhan dan utusannya agar ia dapat memperoleh keselamatan, jika tidak, ia akan masuk neraka setelah ia meninggal. Karena rasa takut tidak diselamatkan dan masuk neraka, seseorang memilih percaya kepada keberadaan tuhan dengan segala perintahnya tanpa mempertanyakan, tanpa memeriksa pernyataan tersebut dan tanpa menindaklanjuti dengan usaha membuktikan kebenaran keberadaannya. Dan karenanya pemikiran untuk mengkritisi menjadi terhenti.

Sebaliknya, pengertian saddhā secara panjang adalah sikap batin yang yakin dan menerima hasil verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan awal berupa anggapan benar (hipotesis) terhadap ajaran (konsep, gagasan, dll.), yang pada tahap pengembangan diri seseorang saat sekarang ini belum dapat dibuktikan karena keterbatasan bukti yang ada, dan merupakan titik awal tindak lanjut berikutnya berupa usaha pengujian untuk pembuktian menuju terwujudnya kebenaran.

Secara singkat, saddhā adalah keyakinan berdasarkan atau bersifat hipotesis. Digunakannya kata “hipotesis” ini dikarenakan kata ini memiliki makna atau pengertian yang mendekati dengan pengertian dari saddhā.

Hipotesis sendiri adalah sesuatu yang dianggap benar untuk alasan atau pengutaraan pendapat (teori, proposisi, dsb.) meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan.[2] Hipotesis juga berarti anggapan atau penjelasan yang diusulkan dibuat atas dasar bukti yang terbatas sebagai titik awal untuk penyelidikan lebih lanjut.[3] Hipotesis juga disebut sebagai dasar penyelidikan, dan dalam berbagai penelitian sebuah hipotesis akan berdasarkan pada penelitian atau pengamatan sebelumnya.[4]

Sebagai contoh mengenai saddhā: seorang umat disebut memiliki saddhā terhadap Buddha meskipun belum bertemu terlebih dahulu, karena sebelumnya ia telah melakukan verifikasi, pemeriksaan, penyelidikan terhadap ajaran-Nya untuk selama beberapa waktu, serta setiap saat dapat melihat dan memastikan adanya hal-hal positif (seperti belas kasih, berkurangnya nafsu, dsb.) yang ada pada diri orang lain yang telah mempraktikkan ajaran-Nya secara benar. Sehingga setelah melihat itu semua akhirnya menimbulkan sukacita, inspirasi dan muncul keyakinan pada diri umat tersebut dengan menganggap benar apa yang telah ia verifikasi, periksa, selidiki sebagai ajaran dari seseorang yang telah tercerahkan (Buddha) dan sesuai untuk dirinya. Dan untuk selanjutnya ia akan berusaha membuktikannya dengan mempraktikkan ajaran tersebut.

Saddhā merupakan salah satu dari lima hal yang dapat menghasilkan dua hal yang berbeda, yaitu menghasilkan hal yang benar atau hal yang salah.[5] Dengan kata lain sesuatu yang diterima berdasarkan saddhā nantinya bisa benar atau salah, bisa merupakan fakta atau sebaliknya.

Karena kondisi saddhā yang dapat menghasilkan dua hal yang berbeda tersebut, maka tidak selayaknya bagi seorang bijaksana yang melestarikan atau menjaga kebenaran, untuk menyimpulkan secara pasti apa yang diterimanya melalui saddhā tersebut dengan mengatakan, “Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah“, hingga ia membuktikan kebenarannya. Namun ia berhak untuk menyatakan, “Demikianlah keyakinan saya“.

Terdapat dua jenis saddhā, yaitu: saddhā yang memiliki pokok alasan/berdasar (Pali: mūlikā saddhā; Skt: mūlakā śraddhā) dan saddhā yang tidak memiliki pokok alasan/tidak berdasar (Pali: amūlikā saddhā; Skt: amūlakā śraddhā).[6]

Mūlikā saddhā adalah keyakinan yang muncul dari penilaian yang hati-hati dari hasil verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan (ehipassiko) yang memiliki alasan atau dasar (hakikat) terhadap sebuah pernyataan, ajaran, dsb. Sedangkan, amūlikā saddhā adalah keyakinan yang muncul tanpa didahului dengan penilaian yang hati-hati dari hasil verifikasi atau pemeriksaan atau penyelidikan yang juga tanpa memiliki alasan atau dasar (hakikat) terhadap sebuah pernyataan, ajaran, dsb.

Keyakinan atau saddhā yang mengakar secara dalam pada wawasan yang beralasan/berdasar (Pali: ākāravatā saddhā dassanamūlika) adalah keyakinan yang kokoh yang tidak terkalahkan oleh siapa pun.[7] Keyakinan ini merupakan keyakinan yang didasari oleh kebijaksanaan (Pali: pañña; Skt: prajñā). Dengan kebijaksanaan atau disebut indria kebijaksanaan (Pali: paññindriya) maka saddhā pada diri seseorang akan stabil.[8]

Itulah jenis keyakinan atau saddhā yang dianjurkan dalam meyakini Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha), karena saddhā seperti itu bermanfaat untuk mengokohkan, menguatkan, memfokuskan, dan sebagai pedoman sebuah niat untuk mencapai tujuan, yang dalam konteks Agama Buddha tujuan tersebut adalah Kebebasan Sejati (Nibbana).

Untuk itu, saddhā terhadap Tiratana merupakan hal yang penting pada awal perkembangan batin, dan karenanya saddhā diperumpamakan sebagai benih.[9] Dan untuk itu juga saddhā perlu dikembangkan dengan cara berlatih dan mempraktikkan ajaran Buddha sambil mengujinya, agar seseorang dapat lebih menguatkan dan memfokuskan diri mencapai tujuan.

Pada tingkat akhir, pada diri mereka yang telah melihat, mengetahui, menembus, mewujudkan, dan mencapai Kebenaran oleh dirinya sendiri secara langsung terhadap sesuatu (misalnya salah satu ajaran Buddha), maka saddhā terhadap Tiratana tersebut tidak diperlukan lagi[10][11] sehingga mereka menjadi tanpa saddhā (Pali: assaddha; Skt: aśraddhā).[12][13] Hal ini sama seperti seseorang yang telah membuktikan kebenaran, melihat sebuah fakta yang nyata ada dan teruji, maka ia tidak memerlukan sebuah hipotesis (anggapan benar) lagi.

Dari pengertian di atas, maka saddhā memiliki ciri-ciri, yaitu: merupakan hasil verifikasi berupa hipotesis, bukan kebenaran final atau akhir tetapi merupakan titik awal perjalanan menuju perwujudan kebenaran melalui pengujian, dan perlu diiringi dengan kebijaksanaan.

– Selesai –

Catatan:

[1] D.G.D.C. Wijeratna, A Critical Appraisal of The Translation of Saddhā in The PED, 2nd International, 2006.
[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan Edisi Ketiga, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
[3] Concise Oxford English Dictionary (Twelfth Edition),  Oxford University Press, 2011.
[4] Ranjit Kumar, Research Methodology: A Step-by-Step Guide for Beginners (Fourth Edition), SAGE Publications Ltd., 2014, hlm. 372.
[5] Lima hal: saddhā (keyakinan), ruci (kegemaran, kesetujuan, pilihan), anussavo (desas-desus, kabar angin, berdasarkan kata orang, tradisi lisan), ākāraparivitakke (penalaran pikiran, pertimbangan cermat), diṭṭhinijjhānakhanti (penerimaan pandangan melalui perenungan). Hal ini terterra dalam Caṅkī Sutta (Majjhima Nikāya 95).
[6] Caṅkī Sutta, Majjhima Nikāya 95 (Majjhima Nikāya: Majjhimapaṇṇāsa: Brāhmaṇavagga 5 {Majjhimapaṇṇāsa 422-435} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.
[7] Vīmaṃsaka Sutta, Majjhima Nikāya 47 (Majjhima Nikāya: Mūlapaṇṇāsa: Cūḷayamakavagga 7 {Mūlapaṇṇāsa 487-490} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.
[8] Paṭha­ma­pub­bārāma ­Sutta, Saṃyutta Nikāya 48.45 (Saṃyutta NikāyaMahāvagga: Indriyasaṃyutta: Jarāvagga 5 {Mahāvagga 515} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.
[9] Kasi Bhāradvāja Sutta, Khuddaka NikāyaSutta Nipāta 1.4 (Khuddaka NikāyaSutta Nipāta: Uragavagga 4 {Sutta Nipāta 76-82} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.)
[10] Nigaṇṭha Nātaputta Sutta, Saṃyutta Nikāya 41.8 (Saṃyutta Nikāya: Saḷāyatanavagga: Citta Saṃyutta 8 {Saḷāyatanavagga 350} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali. (Kisah tentang perumah tangga bernama Citta yang menerima kebenaran dalam samadhi bukan karena saddhā-nya kepada Sri Buddha tetapi karena ia telah mengetahui dan melihatnya sendiri).
[11] Pubba­koṭṭha­ka­ Sutta, Saṃyutta Nikāya 48.44 (Saṃyutta NikāyaMahāvagga: Indriya Saṃyutta: Jarāvagga 4 {Mahāvagga 514} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali. (Kisah tentang Y.A. Sariputta yang menerima kebenaran mengenai 5 indria bukan karena saddhā-nya kepada Sri Buddha tetapi karena ia telah melihat, menembus, mewujudkan, dan mencapainya).
[12] assaddha [a + saddhā] berarti tanpa keyakinan, tidak menyakini (A.P. Buddhadatta Mahathera, Concise Pali-English and English-Pali Dictionary).
[13] Kisah Sāriputta Thera; Dhammapada-aṭṭhakathā 97 (Khuddaka Nikāya-aṭṭhakathā: Dhammapada-aṭṭhakathā: Arahantavagga 8, versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.

Referensi:

  1. Phra Ajaan Lee Dhammadharo, Basic Themes: Four Treatises on Buddhist Practice, diterjemahankan oleh Bhikkhu Thanissaro, 1995.
  2. Nyanatiloka Mahathera, Buddhist Dictionary – Manual of Buddhist Terms and Doctrines, Buddhist Publication Society, Kandy/Sri Lanka, 1980.
  3. Andy Rotman, Thus Have I Seen: Visualizing Faith in Early Indian Buddhism, Oxford University Press, Inc., 2009.
  4. Dr. J.A. Khan, Research Methodology, APH Publishing Corporation, 2008.

Disusun oleh: Bhagavant.com

Rekomendasikan

 
Tersimpan di Ajaran Dasar