Tiga Karakteristik Keberadaan – Tilakkhaṇa

Tiga karakteristik keberadaan atau tiga corak umum (Pali: tilakkhaṇa, Skt: trilakṣaṇa) adalah tiga sifat dasar dari segala sesuatu yang ada, yaitu sifat anicca (tidak tetap, tidak kekal), dukkha (keluh kesah, ketidakpuasan, penderitaan) dan anattā (bukan diri, tanpa inti). Tiga karakteristik keberadaan ini disebutkan dalam Dhammapada 277, 278, dan 279.[1] Dan topik ini hanya membahas mengenai penjelasan karakteristik keberadaan secara umum.

Teks

“Sabbe saṅkhārā aniccā’ti, yadā paññāya passati; Atha nibbindati dukkhe, esa maggo visuddhiyā.” (Dhammapada 277)[2]
Segala yang terbentuk dari perpaduan adalah tidak tetap, apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan keluh kesah (penderitaan). Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

“Sabbe saṅkhārā dukkhā’ti, yadā paññāya passati; Atha nibbindati dukkhe, esa maggo visuddhiyā.” (Dhammapada 278)
Segala yang terbentuk dari perpaduan adalah keluh kesah (ketidakpuasan, penderitaan), apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan keluh kesah (penderitaan). Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.

“Sabbe dhammā anattā’ti, yadā paññāya passati; Atha nibbindati dukkhe, esa maggo visuddhiyā.” (Dhammpada 279)
Segala sesuatu adalah tanpa inti (bukan diri), apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan keluh kesah (penderitaan). Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.[3]

Penjelasan

Ketiga teks Dhammapada di atas menyampaikan bahwa tidak semua keberadaan (sesuatu yang ada) itu memiliki karakteristik atau sifat anicca dan dukkha, tetapi hanya keberadaan yang terbentuk/berasal dari perpaduan (sankhara) saja yang memiliki kedua sifat tersebut. Keberadaan yang terbentuk dari perpaduan (sankara) yaitu jasmani (fisik, wujud) dan batin (mental).

Sedangkan karakteristik atau sifat anatta dimiliki oleh semua keberadaan/segala sesuatu (sabbe dhamma), termasuk keberadaan yang terbentuk dari perpaduan (sankara), dan juga keberadaan yang bukan/tidak dari perpaduan (asaṅkhāra, asaṅkhata). Hanya satu keberadaan yang tidak berasal dari perpaduan,  yaitu Realitas Tertinggi atau Nibbana (Pali: nibbāna; Skt: nirvāṇa).

Anicca

Anicca (Skt: anitya) berarti “tidak tetap” atau “tidak kekal”. Segala yang terbentuk dari perpaduan adalah tidak tetap. Semua keberadaan fisik dan mental (batin) berasal dari perpaduan, dan semuanya terbentuk dan kemudian hancur. Kehidupan manusia baik jasmani maupun batin mengalami siklus proses lahir, tua dan mati, tidak ada yang tetap selamanya, dan semuanya mengalami pelapukan. Begitu juga semua makhluk dan alam kehidupannya, termasuk para dewa (tuhan[4]) dengan alam bahagianya (surga) dan para makhluk menderita dengan alam deritanya (neraka), mengalami perubahan dan tidak tetap, tidak abadi.

Karakteristik atau sifat anicca ini tidak terdapat pada Realitas Tertinggi atau Nibbana yang pada hakikatnya bersifat nicca (tetap, kekal, tidak berubah) dan keberadaannya tidak dilahirkan (ajātaṃ), tidak menjelma (abhūtaṃ), tidak diciptakan (akataṃ), dan bukan/tidak dari perpaduan (asaṅkhataṃ).[5]

Dukkha

Dukkha (Skt: duḥkha) berarti “keluh kesah, ketidakpuasan” [selengkapnya lihat: Empat Kebenaran Arya – Cattāri Ariyasaccāni]. Dukkha merupakan ketidakpuasan dari apa yang ingin dihindari atau pun yang ingin didapatkan. Segala yang terbentuk dari perpaduan memiliki sifat yang anicca (tidak tetap, tidak kekal) serta sifat anatta (tanpa inti, bukan diri) sehingga tidak dapat dimiliki untuk selamanya dan tidak dapat ditentukan sesuai keinginan, akhirnya menimbulkan dukkha (keluh kesah, ketidakpuasan, penderitaan). Penderitaan fisik dan mental yang mengikuti setiap kelahiran kembali, penuaan, kesakitan, kematian, merupakan bagian dari dukkha.

Karakteristik atau sifat dukkha ini juga tidak terdapat pada Realitas Tertinggi atau Nibbana yang pada hakikatnya bersifat nicca (tetap, kekal, tidak berubah) dan keberadaannya tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak diciptakan, dan bukan/tidak dari perpaduan.

Anatta

Anatta (Skt: anātman) berasal dari kata “a” (tidak/bukan) dan “atta” (Skt: atman)[6], yang berarti “tanpa inti” atau “bukan diri”. Anatta juga disebut dan diartikan sebagai “kosong” (Pali: suñña; Skt: śūnya) atau “kekosongan” (Pali: suññatā; Skt: śūnyatā).[7] Karakteristik atau sifat anatta ini terdapat pada semua keberadaan/segala sesuatu (sabbe dhamma), baik segala yang terbentuk dari perpaduan maupun yang bukan dari perpaduan. Semua keberadaan tidak memiliki bentuk inti abadi di dalamnya. Semua keberadaan bukanlah sebuah bentuk diri karena tidak dapat diatur sesuai keinginan dan tidak dapat dimiliki untuk diri sendiri.[8]

Nibbana yang juga merupakan dhamma, dengan keberadaannya yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak diciptakan, dan bukan/tidak dari perpaduan, secara otomatis tidak memiliki “inti” atau “diri” apa pun yang melekat padanya, bahkan tidak terdapat apa pun padanya.[9]

– Selesai –

Catatan:

[1] Khuddaka Nikāya: Dhammapada: Maggavagga 277 – 279 , versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD, Kanon Tipitaka Pali.
[2] saṅkhārā (Skt: saṃskāra; baca: sangkara) berarti yang ada/terbentuk/berasal dari perpaduan, yang berkondisi.
[3] dhamma (Skt: dharma) memiliki banyak arti tergantung kalimat yang menyertainya, antara lain berarti: hukum, ajaran, kebenaran, realitas tertinggi, sesuatu. Dalam konteks ini berarti “sesuatu” atau”kebenaran”.
[4] kata “tuhan” berasal dari kata “tuan” yang berarti “orang tempat mengabdi” atau “penguasa” dalam bahasa Melayu (Adolf J. Heuken, Ensiklopedi Populer tentang Gereja, Yayasan Cipta Loka Caraka, 1991.), merupakan akibat gejala paramasuai (penambahan bunyi “h” pada kata) oleh Melchior Leijdecker (Leydecker, Leydekker, Leidekker; (1642 – 1721)), saat menerjemahkan kitab suci Nasrani ke dalam bahasa Melayu.
[5] Tatiya Nibbāna Sutta, Khuddaka Nikāya: Udāna 8.3 (Udāna: Pāṭaligāmiyavagga 3 {Udāna 73} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.
[6] atta (Skt: atman) berarti “inti” yaitu suatu bentuk khusus yang abadi yang terkandung di dalam sesuatu yang tidak abadi; juga berarti “diri” yaitu sesuatu yang dapat diatur sesuai keinginan, sesuatu yang dimiliki.
[7] Sunna Sutta (Suññata Loka Sutta), Saṃyutta Nikāya 35.85 (Saṃyutta Nikāya: Saḷāyatanavagga: Saḷāyatana Saṃyutta: Channavagga 2 {Saḷāyatanavagga 85} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.
[8] Anattalakkhaṇa Sutta, Saṃyutta Nikāya 22.59 (Saṃyutta Nikāya: Khandhavagga: Khandha Saṃyutta: Upayavagga 7 {Khandhavagga 59} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.
[9] Paṭhama Nibbāna Sutta, Khuddaka Nikāya: Udāna 8.1 (Udāna: Pāṭaligāmiyavagga 1 {Udāna 71} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.

Referensi:

  1. Nyanatiloka Matathera, Buddhist Dictionary, Manual of Buddhist Terms and Doctrines,  Buddhist Publication Society, Kandy/Sri Lanka, 1980.

Disusun oleh: Bhagavant.com

Rekomendasikan

 
Tersimpan di Ajaran Dasar