Buddhisme di Indonesia Zaman Kerajaan

ZAMAN KERAJAAN

Perkembangan Buddhisme di Indonesia Zaman Kerajaan

Setelah masuk ke Nusantara (Indonesia) secara damai dan diterima oleh masyarakat setempat, Buddhisme atau Agama Buddha mulai mendapatkan tempat di kalangan bangsawan kerajaan dan  diadopsi oleh beberapa kerajaan di Nusantara sebagai landasan dan pedoman hidup bagi rakyatnya.

Agama Buddha berkembang dan hidup berdampingan dengan Hinduisme yang juga hadir di Nusantara. Tidak jarang terjadi sinkretis (penyesuaian) antara Agama Buddha dan Hindu yang dilatari oleh kondisi politik dari kerajaan yang menaunginya, sehingga muncullah pemahaman-pemahaman dan istilah-istilah baru yang berbeda dari ajaran asli kedua agama ini.

Pada zaman ini, tidak sedikit kerajaan di Nusantara yang mengadopsi Agama Buddha sebagai landasan dan pedoman hidup bagi rakyatnya, namun hanya beberapa kerajaan yang menikmati masa keemasan bersama dengan perkembangan Agama Buddha seperti Kerajaan , , dan .

 

Zaman Kerajaan Sriwijaya Dan Kalingga

Pada akhir abad ke-7, seorang bhiksu yang berasal dari Dinasti Tang di Tiongkok yang bernama Yijjing atau I-Tsing (635-713) mencatat dengan lengkap mengenai Agama Buddha dan aplikasinya di India dan Melayu. Ia melakukan perjalanan ke India pada tahun 672 dan singgah ke Sriwijaya dan Sumatera pada tahun 685.

I-Tsing menghabiskan waktunya hidup sendirian sebagai bhiksu di India dan Sumatera. Seluruh bukunya merupakan catatan lengkap tentang kehidupan biarawan. Ia tinggal di India seluruhnya berdasarkan peraturan vinaya.

Bila dibandingkan catatan Faxian (Fa Hsien) tahun 414 dengan catatan I-Tsing, dapat diambil kesimpulan bahwa Agama Buddha di pulau Jawa dan Sumatera telah dibangun dengan sangat cepat. Pekerjaan I-Tsing selain menulis catatan seperti dikemukakan di atas, ia juga menulis buku tentang perjalanan seorang guru agama asal Tiongkok bernama Huining (Hwui Ning) yang datang ke Kerajaan Kalingga (Ho-Ling) di Jawa.

Dalam bukunya dikatakan bahwa bhiksu asli Jawa dan Sumatera merupakan sarjana bahasa Sanskerta yang sangat bagus. Salah satunya adalah Jnanabhadra yang merupakan orang Jawa asli asal Kerajaan Kalingga yang bertindak sebagai guru bagi para bhiksu Tiongkok, termasuk Hwui Ning, dan membantu menerjemahkan sutra ke dalam bahasa Tionghoa.

I-Tsing juga menceritakan bahwa beberapa naskah yang diterjemahkan oleh Hwui Ning adalah mengenai mangkatnya (parinibbana) Sri Buddha. Namun, ia mengatakan bahwa naskah tersebut berbeda dengan naskah yang biasa digunakan dalam Mahayana.[1] Dari uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Agama Buddha yang dianut oleh mayoritas masyarakat nusantara pada waktu itu adalah non-Mahayana meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Sanskerta. Namun di Melayu juga terdapat sedikit masyarakat yang mengadopsi Mahayana.

Pada awal abad ke-20, dua prasasti ditemukan di dekat Palembang yang bercorak Mahayana. Prasasti lain yang dibuat tahun 775, ditemukan di Viengsa, semenanjung Melayu mengemukakan bahwa salah satu raja Sriwijaya dari keturunan Sailendra – yang tidak cuma memerintah di selatan Sumatera tapi juga dibagian selatan semenanjung Melayu – memerintahkan pembangunan tiga stupa. Ketiga stupa tersebut dipersembahkan kepada Buddha, Bodhisattva Avalokitesvara dan Vajrapani. Dan ditempat lain ditemukan plat emas yang bertuliskan beberapa nama Dhyani Buddha; yang jelas-jelas merupakan aliran Mahayana.

Dari berita I-Tsing dan beberapa prasasti tersebut, selanjutnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada waktu itu, Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang termasyur karena merupakan pusat ilmu dan kebudayaan Buddhis. Di sana terdapat banyak vihara dan dihuni oleh ribuan bhikkhu. Di Perguruan Tinggi Agama Buddha di Sriwijaya, selain kuliah-kuliah tentang Agama Buddha, orang dapat mengikuti juga kuliah-kuliah tentang bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuno (Kawi). Pujangga-pujangga Agama Buddha terkenal seperti Dharmapala dan Sakyakirti pernah mengajar di Perguruan Tinggi tersebut dan menyebarkan aliran Mahayana. Kerajaan Sriwijaya sendiri didirikan pada lebih kurang pada abad ke-7 dan dapat bertahan terus hingga tahun 1377.

Kemudian, seiring dengan pergantian waktu, agaknya Mahayana-lah yang berkembang dan berpengaruh besar di bumi Sriwijaya. Hal ini terbukti dari beberapa prasasti yang didapat disekitar Palembang yang menyebutkan bahwa “daputa hyang” (barangkali berarti perdana menteri) berusaha mencari berkat dan kekuatan gaib (kesaktian) guna meneguhkan kerajaan Sriwijaya, agar segala mahluk dapat menikmatinya. Dari ungkapan-ungkapan yang digunakan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa upacara ini adalah upacara Indonesia kuno yang sesuai dengan ajaran Mahayana. Dari berita-berita yang lain jelaslah bahwa Mahayanalah yang berpengaruh pada masa itu. Bahkan bukan cuma itu saja, mungkin pengaruh Tantra (Vajrayana), yang di India mempengaruhi Agama Buddha sejak pertengahan abad ketujuh, juga terdapat di Sriwijaya. Hal ini didapat dari uraian bahwa salah satu tingkat untuk mendapatkan kondisi tertinggi adalah Vajra Sarira atau Tubuh Intan, yang mengingatkan kita kepada ajaran Vajrayana.

Dari uraian di atas dapat dikataan bahwa pada tahap permulaan masih ada hubungan yang erat antara Indonesia dan India. Namun, hubungan ini agaknya makin lama makin berkurang.

 

Zaman Kerajaan Medang

Informasi mengenai keadaan Agama Buddha pada masa Kerajaan Medang atau Mataram Kuno atau juga dikenal dengan Kerajaan Sailendra nampaknya lebih jelas dibanding pada masa Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dikarenakan sumber-sumber yang memberi informasi mengenai Agama Buddha lebih banyak, misalnya dengan keberadaan prasasi-prasasti dan bangunan-bangunan seperti candi.

Sekitar tahun 775 sampai dengan 850 di daerah Bagelan dan Yogyakarta, di Jawa Tengah berkuasalah raja-raja dari wangsa Sailendra yang memeluk Agama Buddha dan wangsa Sanjaya yang memeluk agama Hindu-Shiva. Inilah zaman keemasan bagi Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dan negara pada saat itu aman dan makmur karena kedua wangsa (dinasti) itu saling menolong satu sama yang lain dalam mendirikan tempat-tempat suci (candi).

Di Kerajaan Medang dinasti Sailendra, agama yang dipeluk adalah Agama Buddha Mahayana. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan sejarah dan candi dari kerajaan ini yang bercorak Mahayana. Walaupun Kerajaan Medang-Sailendra banyak mendirikan candi namun masih terbilang sedikit bila dibandingkan dengan candi yang dibangun oleh kerajaan Sanjaya. Selain berdasarkan prasasti-prasasti yang ada, bahwa Agama Buddha yang berkembang adalah Buddha Mahayana, jelas terlihat dari candi di desa Kalasan – yang kemudian diabadikan sebagai nama candi tersebut. Candi ini dipergunakan untuk pemujaan kepada Tara, pemujaan kepada Bodhisattva Avalokitesvara, peresmian rupang (arca) Bodhisattva Manjusri, dan sebaginya.

Nampaknya, pada masa ini kerajaan di Jawa Tengah masih ada hubungan yang erat dengan India, sebab ada juga berita bahwa seorang guru dari Gaudadwipa (Bengala) yang memimpin upacara pada waktu peresmian rupang Manjusri. Demikian juga diberitakan diprasasti lain bahwa ada orang dari Gujarat yang senantiasa melakukan kebaktian di candi tertentu. Dugaan itu berasal dari berita di India. Raja Dewapala dari dinasti Pala (Bengala) pada tahun pemerintahannya yang ke-39 (antara tahun 856 sampai 860) menghadiahkan beberapa desa untuk keperluan pemeliharan sebuah vihara di Nalanda, yang didirikan oleh Balaputra, raja dari Suwarnadwipa (Sumatera), cucu raja di Jawa.

Sekalipun demikian, nampaknya keadaan di Jawa Tengah tidaklah sama dengan keadaan di Sriwijaya yang menjadi pusat Agama Buddha.

Namun, aliran Mahayana yang bagaimanakah yang berkembang di Jawa Tengah? Pertanyaan ini sukar untuk dijawab. Tapi, yang perlu diperhatikan adalah apa yang tertera pada prasasti Kalurak (782) yang agaknya berhubungan dengan peresmian rupang Manjusri. Disebutkan dalam prasasti itu bahwa Manjusri selain disamakan dan anggap sebagai salah satu perwujudan dari Triratna (Buddha, Dhamma, dan Sangha), Ia juga disamakan dan anggap sebagai salah satu perwujudan dari Trimurti yaitu Brahma, Vishnu dan Mahesvara (Shiva). Hal ini menimbulkan suatu teori bahwa telah terjadi sinkretisasi (penyerasian, pencampuran) antara Agama Buddha Mahayana dengan Agama Hindu di Jawa Tengah. Bagi para pengikut Mahayana di Jawa Tengah, agaknya para Bodhisattva tidak dibedakan dengan dewa dari Agama Hindu.

Disamping prasasti, ada pula candi-candi yang menjadi bukti keberadaan Agama Buddha di Jawa Tengah. Pada masa itu, ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan tentang Agama Buddha, sangatlah maju. Kesenian – terutama seni pahat, mencapai taraf yang sangat tinggi. Seniman-seniman nusantara telah menghasilkan karya seni yang mengagumkan, misalnya candi Borobudur, Pawon, Mendut, Kalasan, dan Sewu. Dari candi-candi tersebut memberikan kita penjelasan yang lebih banyak. Selain candi-candi tersebut di atas, sebenarnya masih banyak lagi candi-candi yang didirikan atas perintah raja-raja dinasti Sailendra. Tetapi yang paling besar dan paling indah serta terkenal adalah Candi Borobudur yang dibangun pada masa Raja Samarottungga.

Jika kita ingin memahami filosofi dibalik kemegahan Borobudur, bangunan itu harus dipandang sebagai suatu satu kesatuan. Borobudur yang mengandung filosofi Mahayana dan juga Tantrayana (Vajrayana) ini, secara menyeluruh mengungkapkan gambaran mengenai alam semesta atau kosmos. Borobudur terbagi atas tiga bagian, yaitu Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Kamadhatu adalah tingkat hawa napsu dan ini digambarkan dengan jelas pada bagian bawah atau kaki candi. Di sini merupakan kehidupan yang terikat oleh hawa napsu dan segala hal yang berbau duniawi. Rupadhatu adalah tingkat dunia rupa, atau alam yang terbentuk, yang digambarkan pada lima teras yang menggambarkan kehidupan Buddha Gotama. Arupadhatu adalah tingkat alam yang tak berupa, tidak berbentuk. Pada tingkat teratas terdapat sebuah stupa yang kosong, yang menggambarkan sunyata atau Nirvana. Borobudur adalah tempat untuk bermeditasi, tempat untuk merenung.

Mengingat bahwa Borobudur dibangun diatas bukit, agaknya pembangunan Borobudur itu dijiwai oleh gagasan Indonesia kuno, yaitu tentang adanya tempat suci yang berbentuk teras, yang biasanya dipakai untuk menghormati nenek moyang, dan terletak diatas bukit. Oleh karena itu maka kiranya pemujaan kepada Bodhisattva sudah dipandang sebagai alat untuk menghormati nenek moyang mereka yang sudah meninggal. Jika demikian maka Agama Buddha pada waktu ini sudah dipengaruhi oleh cita-cita keagamaan Indonesia asli.

Setelah Raja Samarottungga wafat, Kerajaan Medang atau Mataram Kuno kembali diperintah oleh raja-raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Shiva, namun Agama Buddha dan agama Hindu-Shiva dapat berkembang terus berdampingan dengan rukun dan damai.

 

Zaman Kerajaan Majapahit

Pada akhir abad ke-10 kita tidak mendengar lagi kerajaan Hindu di Jawa Tengah, tetapi sejak tahun 929 prasasti-prasasi hanya terdapat di Jawa Timur.

Di Jawa Timur, sepertinya Agama Buddha dan Agama Hindu-Shiva hidup berdampingan. Hal ini tertera dari prasasti-prasasti dimana seorang empu bernama Sindok disebut dengan gelar Sri Isana (sebutan Shiva) sedangkan putrinya menikah dengan Lokapala yang juga disebut Sugatapaksa (sebutan Buddhis). Juga ditemukan pengaruh Tantra pada kedua agama ini cukup kuat.

Dari kepustakaan keagamaan yang ada, didapat bahwa kepustakaan yang terkuno disusun sedemikian rupa, hingga terdiri dari ayat-ayat dalam bahasa Sanskerta, yang diikuti oleh keterangan bebas dalam bahasa Jawa kuno. Dari sini terlihat bahwa ayat-ayat itu berasal dari India. Jadi dalam karyanya pada masa itu orang masih terikat pada kebudayaan India. Kemudian selanjutnya orang-orang pada masa itu mulai menghasilkan kepustakaan yang seluruhnya ditulis dalam bahasa Jawa kuno dengan diselingi bait-bait dalam bahasa Sanskerta. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan dengan kebudayaan India sudah mulai longgar. Dan terdapat kitab yang seluruhnya terdiri dari bahasa Jawa kuno, hanya kadang terdapat selingan dalam bahasa Sanskrit. Ini menunjukkan bahwa pengaruh kebudayaan India mulai ditinggalkan.

Ada dua buku yang menguraikan ajaran Buddhisme Mahayana pada zaman ini, yaitu “Sanghyang Kamahayanan Mantrayana” yang berisi mengenai ajaran yang ditujukan kepada bhiksu yang sedang ditahbiskan, dan “Sanghyang Kamahayanikan” yang berisi mengenai kumpulan pengajaran bagaimana orang dapat mencapai pelepasan. Pokok ajaran dalam Sanghyang Kamahayanikan adalah menunjukan bahwa bentuk yang bermacam- macam dari bentuk pelepasan pada dasarnya adalah sama. Nampaknya, sikap sinkretisme dari penulis “Sanghyang Kamahayanikan” tercermin dari pengidentifikasian Shiva dengan Buddha dan menyebutnya sebagai “Shiva-Buddha”, bukan lagi Shiva atau Buddha, tetapi Shiva-Buddha sebagai satu Tuhan.

Pada zaman Majapahit (1293 – 1527), sinkretisme sudah mencapai puncaknya. Sepertinya aliran Hindu-Shiva, Hindu-Vishnu dan Agama Buddha dapat hidup bersamaan. Ketiganya dipandang sebagai bentuk yang bermacam-macam dari suatu kebenaran yang sama. Shiva dan Vishnu dipandang sama nilainya dan mereka digambarkan sebagai “Harihara” yaitu rupang (arca) setengah Shiva setengah Vishnu. Shiva dan Buddha dipandang sama. Di dalam kitab kakawin (syair) Arjunawijaya karya Mpu Tantular misalnya diceritakan bahwa ketika Arjunawijaya memasuki candi Buddha, para pandita menerangkan bahwa para Jina dari penjuru alam yang digambarkan pada patung-patung itu adalah sama saja dengan penjelmaan Shiva. Vairocana sama dengan SadaShiva yang menduduki posisi tengah. Aksobya sama dengan Rudra yang menduduki posisi timur. Ratnasambhava sama dengan Brahma yang menduduki posisi selatan, Amitabha sama dengan Mahadeva yang menduduki posisi barat dan Amogasiddhi sama dengan Vishnu yang menduduki posisi utara. Oleh karena itu para bhikkhu tersebut mengatakan tidak ada perbedaan antara Agama Buddha dengan Shiva. Dalam kitab “Kunjarakarna” disebutkan bahwa tiada seorang pun, baik pengikut Shiva maupun Buddha yang bisa mendapat kelepasan jika ia memisahkan yang sebenarnya satu, yaitu Shiva-Buddha.

Dari penjelasan di atas, kita mendapat kesan bahwa pada waktu itu Agama Buddha lebih berkembang dari agama Hindu-Shiva. Ini juga dapat dilihat dari kitab kakawin Sutasoma yang juga merupakan karya Mpu Tantular yang hidup pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, yang di dalamnya menceritakan tentang kemarahan Kalarudra (tokoh Agama Hindu) yang hendak membunuh Sutasoma yang diceritakan sebagai titisan Buddha. Para dewata mencoba meredakan Kalarudra dengan mengingatkan bahwa sebenarnya Buddha dan Shiva tidak bisa dibedakan. Jinatva (hakekat Buddha) adalah sama dengan Shiva tattva (hakekat Shiva). Selanjutnya dianjurkan agar orang merenungkan Shiva-Buddha-tattwa, hakekat Shiva-Buddha. Dalam kakawin Sutasoma di dalamnya juga terdapat kalimat Ciwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika Tanhang Dharma Mandrawa. Dari kata-kata inilah kemudian diambil semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang kini dijadikan lambang Negara Republik Indonesia yang melambangkan moto toleransi dan persatuan.

Begitu juga dengan kisah Bubuksah. Dikisahkan ada dua saudara, yang tua bernama Gagang Aking, menganut agama Hindu-Shiva dan yang muda bernama Bubuksah, menganut Agama Buddha. Sejak muda mereka hidup sebagai pertapa di gunung Wilis. Bubuksah makan segala sesuatu yang dapat dimakan sedangkan Gagang Aking menahan makannya, ia hanya memakan tumbuh-tumbuhan saja. Mereka pun berdebat mengenai dua jenis pertapaan ini. Sesudah beberapa waktu, dewa Mahaguru mengutus Kala Wijaya dalam wujud harimau putih yang kelaparan untuk menguji kedua saudara itu. Ketika harimau putih datang ke Gagang Aking untuk memakannya, harimau tersebut dinasehati oleh Gagang Aking untuk pergi kepada saudaranya yaitu Bubuksah, yang tubuhnya lebih gemuk daripada dirinya, sedangkan ia kurus kering. Ketika harimau itu tiba ditempat Bubuksah, ia disambut dengan baik dan dengan senang hati Bubuksah menyerahkan diri pada harimau itu untuk dimakannya. Setelah itu Bubuksah dilahirkan di alam surga.

Dari kisah di atas, jelas menunjukan sebuah polemik yang ingin menunjukkan keunggulan dari Agama Buddha, dimana Bubuksah sebagai seorang Buddhis yang menghindari praktik pertapaan yang ekstrem dan yang lebih menekankan sikap batin dibanding dengan apa yang dimakan dalam kehidupannya, justru mendapatkan kebahagiaan. Yang menarik adalah kisah ini dilukiskan pada relief candi Panataran yang merupakan candi untuk Agama Hindu .

Meskipun Buddhisme dan Hinduisme telah menyebar di Jawa Timur, nampaknya kepercayaan leluhur masih memerankan peranannya dalam kehidupan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan struktur candi yang di dalamnya terdapat tempat pemujaan nenek moyang, yang berwujud batu megalit, yang ditempatkan di teras tertinggi dari tempat suci itu.

Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran pada masa akhir pemerintahan Bhre Kertabumi atau Raja Brawijaya V (1468 – 1478) setelah mendapatkan serangan dari Kerajaan Islam Demak[2][3][4]. Antara tahun 1486 dan 1513 ibu kota Majapahit dipindahkan ke Daha, Kediri, Jawa Timur[5][7], dan Majapahit mengalami kehancuran secara total setelah kembali diserang oleh Kerajaan Islam Demak pada tahun 1527.[5][6]

Gejolak Majapahit terjadi hingga tahun 1528, saat keraton diambil alih dan keluarga kerajaan terpaksa mengungsi dan berlindung di Bali – pulau yang telah lama bergantung dengan Majapahit.[8] Tidak sedikit para umat Buddha maupun Hindu yang menyingkir ke daerah-daerah perdalaman.

 

Zaman Tertidurnya Buddhisme di Nusantara

Runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddhis di Nusantara (Indonesia) sehingga tidak adanya pihak kerajaan sebagai salah satu pengayom, membuat Agama Buddha dan Hindu di Nusantara berangsur-angsur mengalami kemunduran dan digeser kedudukan mayoritasnya oleh Agama Islam. Namun, meskipun mengalami kemunduran, Agama Buddha tidaklah langsung sepenuhnya ditinggalkan secara menyeluruh oleh masyarakat di Nusantara.

Sebagai contoh, setelah runtuhnya Majapahit sebagai kerajaan Hindu-Buddhis terbesar dan terakhir, petinggi-petinggi Majapahit banyak yang terpaksa atau dipaksa berubah haluan. Bagi yang tidak kuat keyakinannya dan goyah, demi hidup, demi jabatan, mereka pindah keyakinan agama. Yang bimbang diberi pilihan hidup atau mati. Tetapi yang betul-betul idealis Buddhis meskipun dengan berbagai cara ditekan, tidak tergoyahkan. Orang-orang idealis Buddhis ini lebih baik menyingkir, menjauh sampai ke daerah-daerah pedalaman hingga menjadi komunitas masyarakat tersendiri.[9]

Komunitas-komunitas masyarakat Hindu dan Buddhis yang menyingkir ke daerah-daerah perdalaman di Nusantara tersebut tetap memegang teguh ajaran agama lama secara turun temurun. Ajaran penting tersebut diberikan secara sangat tradisional/sederhana, sebagian tidak menggunakan tulisan tetapi dihafal melalui lisan, melalui contoh dalam perilaku dan perbuatan, dan untuk bagian-bagian yang sangat penting cukup dilakukan di dalam batin.

Sisa-sisa ajaran dan tradisi pada komunitas-komunitas pedalaman yang tersebar di Nusantara tersebut, kini beberapa di antaranya dapat dijumpai pada ajaran dan tradisi Suku Kanekes atau Badui (Baduy) di Jawa Barat, Suku Samin di Jawa Tengah, Suku Tengger di Jawa Timur, Suku Kajang di Sulawesi Selatan, Suku Kaili atau Kaly di Sulawesi Tengah, Suku Sangir di Sulawesi Utara, Suku Dayak Kaharingan di Kalimantan, Suku Karo di Sumatera, dan lain-lain.

Lima kemoralan (Pancasila) dari Agama Buddha yang terdiri dari: bertekad menghindari diri dari membunuh, menghindari diri dari mencuri, menghindari diri dari melakukan tindakan seksualitas yang tidak diperkenankan, menghindari diri dari berdusta, menghindari diri dari makan dan minum yang memabukkan, setelah runtuhnya Majapahit tetap menjadi tuntutan perilaku bagi masyarakat Jawa yang kemudian mengalami sedikit perubahan dan dikenal dengan Mo Limo (pantang lima hal) yaitu ora keno (tidak melakukan) mateni (membunuh), maling (mencuri), madon (bermain perempuan), madat (mabuk) dan main (berjudi).

Berdasarkan hal-hal di atas, setelah masa kerajaan di Nusantara, Buddhisme atau Agama Buddha tidak benar-benar lenyap, tetapi hanya tertidur dan akan terbangun 500 tahun kemudian terhitung dari wafatnya Raja Majapahit Brawijaya V pada tahun 1478.

 

DAFTAR ISI

Pendahuluan

Buddhisme di Indonesia Zaman Kerajaan

Buddhisme di Indonesia Zaman Penjajahan

Buddhisme di Indonesia Zaman Kemerdekaan dan Orde Lama

Buddhisme di Indonesia Zaman Orde Baru

Buddhisme di Indonesia Zaman Wadah Tunggal

Buddhisme di Indonesia Zaman Reformasi

Penutup

Kepustakaan:

[1] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001, hlm.110.
[2] Lydia Kieven, Following the Cap-Figure in Majapahit Temple Reliefs, BRILL, 2013, hlm. 296.
[3] Babad Tanah Jawi.
[4] Kronik Sam Po Kong, 1929.
[5] Merle Calvin Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since C. 1200, Fourth Edition, hlm. 39.
[6] Ricklefs, M.C., Bruce Lockhart, Albert Lau, Portia Reyes, Maitrii Aung-Thwin, A New History of Southeast Asia, 2010, hlm. 112-113.
[7] Tomé Pires, Francisco Rodrigues, The Suma oriental of Tomé Pires books 1-5 , Asian Educational Services, 1990, hlm. 185.
[8] André Wink, Indo-Islamic society: 14th – 15th centuries, hlm.226.
[9] Bhikkhu Dhammasubho Thera, Mengungkap Budaya Buddhisme di Nusantara (2): Pasca Majapahit, Buletin Mahasati – Ringkasan 3: Diskusi Dhamma Edisi 19/10/2002, Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, 2002.

Rekomendasikan

 
Tersimpan di Sejarah