Ekspresi Harapan dan Salam Buddhis

Sebagai makhluk sosial manusia tidak luput dari interaksi atau hubungan dengan individu maupun kelompok lain.

Dalam interaksinya, untuk menyatakan keberadaan dirinya, menunjukkan perhatian, dan penghormatan kepada satu individu maupun kelompok lain, seseorang menyampaikan ucapan salam awal dan akhir untuk bertegur sapa dan juga memberikan ekspresi harapan.

Sapaan atau ucapan salam dan ekspresi harapan seseorang kepada orang lain dipengaruhi oleh kebudayaan (termasuk bahasa) dan keyakinan (agama) yang dianutnya.

Untuk mencirikan dirinya secara khusus sebagai bagian dari agama yang dianutnya, pada umumnya umat beragama mengucapkan salam dan ekspresi harapan yang khas sebagai salam keagamaan. Pada umumnya mereka menggunakan bahasa daerah tempat asal agamanya dilahirkan dan berkembang dengan penambahan nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agamanya.

Bagi umat beragama Buddha mengucapan salam dan ekspresi harapan adalah sebagai bentuk perhatian, empati dan penghormatan kepada orang lain, baik kepada sesamanya maupun kepada masyarakat umum.

Agama Buddha yang lahir dan berkembang awalnya di Asia Selatan setidaknya memiliki dua bahasa keagamaan yang digunakan dalam teks-teks awal Agama Buddha yang juga digunakan sebagai bahasa dalam salam Buddhis, yaitu bahasa Pali dan Sanskerta.

Meskipun tidak ada paksaan bagi umat Buddhis dalam menggunakan kedua bahasa tersebut dalam mengucapkan salam, namun penggunaan bahasa Pali dan Sanskerta memberi nilai dan kekhasan tersendiri bagi salam Buddhis. Selain bisa sebagai sarana pembentuk identitas dan pemersatu umat Buddhis, penggunaan kedua bahasa tersebut bisa menjadi sebuah cara untuk melestarikan bahasa yang digunakan dalam teks-teks Buddhis.

Seperti halnya salam dan ekspresi harapan dalam berbagai bahasa, salam Buddhis dan ekspresi harapan Buddhis memiliki beragam dalam susunan kalimat, makna, dan fungsi kegunaannya. Dan tidak jarang, di dalam sebuah salam Buddhis juga diikuti dengan ekspresi harapan atau bahkan renungan.

Salam Buddhis maupun ekspresi harapan Buddhis, diiringi dengan sikap atau posisi anjali (mudra anjali atau namaste), yaitu mengangkat kedua telapak tangan yang dilekatkan satu sama yang lain di depan dada.

Berikut beberapa contoh salam Buddhis dan ekspresi harapan Buddhis dalam bahasa Pali dan Sanskerta yang umum digunakan, termasuk dengan arti, cara membacanya, fungsi kegunaannya, dan contoh penggunaannya dengan menggabungkan dengan bahasa Indonesia, serta alternatif paduan katanya.

Salam Buddhis dan Ekspresi Harapan Buddhis

Salam Buddhis Selamat Datang Svāgataṃ

Namaste
Baca: Namaste
Bahasa: Sanskerta (Pali: namo te atthu – baca: namo te atthu)
Arti: Kepada Anda saya/kami memberi hormat; Hormat saya/kami kepada Anda.
Fungsi: Sebagai salam penghormatan awal dan akhir pembicaraan, untuk berbagai tempat dan waktu kepada orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seseorang (tunggal) maupun kepada lebih dari satu orang (jamak).
Contoh penggunaan: “Namaste, Bhante!” (Hormat saya/kami, Bhante!)

Svāgataṃ / Sāgataṃ
Baca: Swaa-gatang / Saagatang
Bahasa: Pali, Sanskerta
Arti: Selamat datang.
Fungsi: Sebagai salam untuk menyambut kedatangan seseorang (tamu) untuk berbagai tempat dan waktu.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seseorang (tunggal) maupun kepada lebih dari satu orang (jamak)
Contoh penggunaan: “Svāgataṃ, Bhante!” (Selamat datang, Bhante!)

Sotthi hotu / Suvatthi hotu
Baca: Sot-thi hotu / Suwatthi hotu
Bahasa: Pali (Sanskerta: Svasti astu – baca: swasti astu)
Arti: Semoga ada kesejahteraan / kebaikan; Semoga sejahtera.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan sejahtera atau kebaikan yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada diri sendiri dan orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu.
Contoh penggunaan: “Namaste! Sotthi hotu, Teman!” (Hormat saya kepada Anda! Semoga sejahtera, Teman!); “Sotthi te hontu, Teman-teman!” (Semoga sejahtera, Teman-teman!)

Sotthi te hotu
Baca: Sot-thi te hotu
Bahasa: Pali (Sanskerta: Svasti te astu – baca: swasti te astu)
Arti: Semoga ada kesejahteraan pada Anda/kalian; Semoga Anda/kalian sejahtera.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan sejahtera yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu.
Contoh penggunaan: “Namaste! Sotthi te hotu, Teman!” (Hormat saya kepada Anda! Semoga kesejahteraan ada pada Anda, Teman!); “Sotthi te hontu, Teman-teman!” (Semoga kesejahteraan ada pada kalian, Teman-teman!)

Sotthi me hotu
Baca: Sot-thi me hotu
Bahasa: Pali (Sanskerta: Svasti me astu – baca: swasti me astu)
Arti: Semoga ada kesejahteraan pada saya; Semoga saya sejahtera.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan sejahtera kepada diri sendiri.
D/U: Dari umat Buddhis kepada dirinya sendiri.
Contoh penggunaan: “Etena saccena sotthi me hotu.” (Dengan kebenaran ini semoga saya sejahtera.)

Sotthi te hotu sabbadā
Baca: Sot-thi te hotu sab-badaa
Bahasa: Pali (Sanskerta: Svasti te astu sarvadā – baca: swasti te astu sarwadaa)
Arti: Semoga selalu ada kesejahteraan pada Anda; Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan sejahtera yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seseorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu.
Contoh penggunaan: “Svāgataṃ! Sotthi te hotu sabbadā, Sahabat!” (Selamat datang! Semoga kesejahteraan selalu ada pada Anda, Sahabat!); “Sotthi te hontu sabbadā”, Rekan-rekan! (Semoga kesejahteraan selalu ada pada kalian, Rekan-rekan!)

Sukhi hotu
Baca: Su-khi hotu
Bahasa: Pali (Sanskerta: Sukhi astu – baca: sukhi astu)
Arti: Semoga ada kebahagiaan; Semoga bahagia.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan bahagia yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada diri sendiri dan orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seseorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu.
Contoh penggunaan: “Svāgataṃ! Sukhi hotu, Sahabat!” (Selamat datang! Semoga bahagia, Sahabat!); “Sukhi hontu, Rekan-rekan!” (Semoga bahagia, Rekan-rekan!)

Sukhi te hotu
Baca: Su-khi te hotu
Bahasa: Pali (Sanskerta: Sukhi te astu – baca: sukhi te astu)
Arti: Semoga ada kebahagiaan pada Anda/kalian; Semoga Anda/kalian bahagia.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan bahagia yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seseorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu.
Contoh penggunaan: “Svāgataṃ! Sukhi te hotu, Sahabat!” (Selamat datang! Semoga kebahagiaan ada pada Anda, Sahabat!); “Sukhi hontu, Rekan-rekan!” (Semoga kebahagiaan ada pada kalian, Rekan-rekan!)

Sukhi me hotu
Baca: Su-khi me hotu
Bahasa: Pali (Sanskerta: Sukhi me astu – baca: sukhi me astu)
Arti: Semoga ada kebahagiaan pada saya; Semoga saya bahagia.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan bahagia kepada diri sendiri.
D/U: Dari umat Buddhis kepada dirinya sendiri.
Contoh penggunaan: “Etena saccena sukhi me hotu.” (Dengan kebenaran ini semoga saya bahagia.)

Sukhi te hotu sabbadā
Baca: Su-khi te hotu sab-badaa
Bahasa: Pali (Sanskerta: Sukhii te astu sarvadā – baca: sukhi te astu sarwadaa)
Arti: Semoga selalu ada kebahagian pada Anda; Semoga kebahagiaan selalu ada pada Anda.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan bahagia yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seseorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu.
Contoh penggunaan: “Svāgataṃ! Sukhi te hotu sabbadā, Sahabat!” (Selamat datang! Semoga kebahagiaan selalu ada pada Anda, Sahabat!); “Sukhi te hontu sabbadā”, Rekan-rekan! (Semoga kebahagiaan selalu ada pada kalian, Rekan-rekan!)

Buddhānubhāvena sotthi hotu
Baca: Bud-dhaanubhaawena sot-thi hotu
Bahasa: Pali (Sanskerta: Buddhānubhāvena svasti astu – baca: Bud-dhaanubaawena swasti astu)
Arti: Dengan kekuatan nilai-nilai luhur Buddha semoga sejahtera.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan sejahtera yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada diri sendiri dan orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada umat Buddhis lainnya dan bisa dari umat Buddhis kepada masyarakat umum. Ditujukan kepada seorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu.
Contoh penggunaan: “Svāgataṃ! Buddhānubhāvena sotthi hotu, Sahabat!” (Selamat datang! Dengan kekuatan nilai-nilai luhur Buddha, semoga sejahtera, Sahabat!); “Buddhānubhāvena sotthi hontu, Teman-teman!” ( Dengan kekuatan nilai-nilai luhur Buddha, semoga sejahtera, Teman-teman!)

Sabba Dhammānubhāvena sukhi te hotu sabbadā
Baca: Sabba Dhar-maanubhaawena su-khi te hotu sabbadaa
Bahasa: Pali (Sanskerta: Sarva Dharmānubhāvena sukhi te astu sarvadā – baca: Sarwa Dhar-maanubhaawena su-khi te astu sarvadaa)
Arti: Dengan seluruh kekuatan nilai-nilai luhur Dhamma semoga kebahagiaan selalu ada pada Anda.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan bahagia yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada umat Buddhis lainnya dan bisa dari umat Buddhis kepada masyarakat umum. Ditujukan kepada seorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu. Kata Dhammānubhāvena (kekuatan nilai-nilai luhur Dhamma) bisa diganti dengan Buddhānubhāvena (kekuatan nilai-nilai luhur Buddha) atau dengan Saṅghānubhāvena (kekuatan nilai-nilai luhur Saṅgha).
Contoh penggunaan: “Svāgataṃ! Sabba Dhammānubhāvena sukhi te hotu sabbadā, Sahabat!” (Selamat datang! Dengan seluruh kekuatan nilai-nilai luhur Dhamma semoga kebahagiaan selalu ada pada Anda, Sahabat!); “Svāgataṃ! Sabba Dhammānubhāvena sukhi te hotu sabbadā, Teman-teman!” (Selamat datang! Dengan seluruh kekuatan nilai-nilai luhur Dhamma semoga kebahagiaan selalu ada pada kalian, Teman-teman!)

Bhavatu te sabba sumaṅgalaṃ
Baca: Bhawatu te sabba su-manggalang
Bahasa: Pali (Sanskerta: Bhavatu te sarva sumaṅgalaṃ – baca: bhawatu te sarwa sumanggalang)
Arti: Semoga semua berkah yang baik melimpah kepada Anda/kalian.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan berkah yang dapat disandingkan dengan salam awal dan salam akhir dalam pembicaraan kepada orang lain.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Ditujukan kepada seorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata bhavatu berubah menjadi bhavantu. Jika ingin ditujukan kepada diri sendiri maka kata te diubah menjadi kata me.
Contoh penggunaan: “Namaste! Bhavatu te sabba sumaṅgalaṃ, Sahabat.” (Hormat saya! Semoga semua berkah yang baik melimpah kepada Anda, Sahabat.); “Sumajjhantikaṃ! Bhavantu te sabba sumaṅgalaṃ, Teman-teman.” (Selamat sore! Semoga semua berkah yang baik melimpah kepada kalian, Teman-teman.)

Dīghāyu vaṇṇo sukhaṃ balaṃ bhavatu te
Baca: Diighaayu wanyo sukhang balang bhawatu te
Bahasa: Pali (Sanskerta:Dīrghāyu varṇo sukhaṃ balaṃ bhavatu te – baca: diirghaayu warnyo sukhang balang bhawatu te)
Arti: Semoga Anda panjang usia/umur, rupawan, bahagia, dan kuat.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan panjang umur, rupawan, bahagia, dan kuat yang dapat disandingkan dengan ucapan selamat hari ulang tahun.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai ucapan selamat ulang tahun kepada seorang umat Buddhis karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata bhavatu berubah menjadi bhavantu.
Contoh penggunaan: “Sukhita jātadivasaṃ! Dīghāyu vaṇṇo sukhaṃ balaṃ bhavatu te” (Selamat ulang tahun! Semoga Anda panjang usia/umur, rupawan, bahagia, dan kuat ); “Sukhita jātadivasaṃ! Dīghāyu vaṇṇo sukhaṃ balaṃ bhavantu te” (Selamat ulang tahun! Semoga kalian panjang usia/umur, rupawan, bahagia, dan kuat )

Icchitaṃ patthitaṃ tuyhaṃ, kippameva samijjhatu bhavatu te
Baca: Icchitang patthitang tuyhang, kippamewa samijjhatu bhawatu te
Bahasa: Pali
Arti: Semoga harapan dan cita-cita Anda (kamu) segera tercapai.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan agar cita-cita atau keinginan dan harapan dapat tercapai.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Ditujukan kepada seorang (tunggal). Dapat juga di gunakan masyarakat umum karena artinya yang umum. Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata samijjhatu berubah menjadi samijjhantu.
Contoh penggunaan: “Mayhaṃ suhadamittāya sukhita jātadivasaṃ. Icchitaṃ patthitaṃ tuyhaṃ, kippameva samijjhatu bhavatu te!” (Selamat ulang tahun untuk temanku! Semoga harapan dan cita-citamu segera tercapai)

Hotu te jaya maṅgalaṃ
Baca: Hotu te jaya manggalang
Bahasa: Pali (Sanksterta: Astu te jaya maṅgalaṃ – baca: astu te jaya manggalang)
Arti: Semoga kejayaan dan berkah melimpah kepada Anda.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan agar seseorang berjaya dan berlimpah dengan berkah.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum karena artinya yang umum. Ditujukan kepada seorang (tunggal). Jika ditujukan kepada lebih dari satu orang (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu.
Contoh penggunaan: “Mayhaṃ suhadamittāya sukhita jātadivasaṃ. Hotu te jaya maṅgalaṃ!” (Selamat ulang tahun untuk temanku! Semoga kejayaan dan berkah melimpah kepadamu)

Subhaṃ bhavatu
Baca: Subhang bhawatu
Bahasa: Pali
Arti: Semoga baik-baik saja, selamat tinggal.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan dalam salam perpisahan.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Hanya sampai di sini pertemuan kita, svaparaṇhaṃ, subhaṃ bhavatu!” (Hanya sampai di sini pertemuan kita, selamat sore, selamat tinggal!)

Ucapan Selamat Ulang Tahun (Selamat Hari Lahir)

Salam Buddhis Ucapan Selamat Ulang Tahun Jatadivasa

Sukhita Jātadivasa
Baca: Sukhita jaatadiwasa
Bahasa: Pali (Sanskerta: Sukhita janmadivasa – baca: sukhita janmadiwasa)
Arti: Hari lahir yang bahagia; selamat hari lahir; Selamat hari ulang tahun.
Fungsi: Sebagai ekspresi ucapan selamat hari lahir atau hari ulang tahun.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai ucapan selamat ulang tahun kepada seorang umat Buddhis karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Sukhita jātadivasa, Kakak!” (Selamat ulang tahun, Kakak!)

Variasi mengucapkan selamat ulang tahun

Sukhita Jātadivasaṃ te …
Baca: Sukhita jaatadiwasang te …
Bahasa: Pali (Sanskerta: Sukhita janmadivasaṃ te … – baca: sukhita janmadiwasang te …)
Arti: Hari lahir yang bahagia untuk …; selamat hari lahir untuk …; selamat hari ulang tahun untuk ….
Fungsi: Sebagai ekspresi ucapan selamat hari lahir atau hari ulang tahun untuk seseorang yang secara spesifik disebutkan. Digunakan jika menggunakan bahasa Pali secara keseluruhan.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai ucapan selamat ulang tahun kepada seorang umat Buddhis karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Sukhita jātadivasaṃ te Ammā!” (Ibu/mama, selamat ulang tahun untukmu!); “Sukhita jātadivasaṃ te Bhante!” (Bhante, selamat ulang tahun untukmu!)

Mayhaṃ pituno sukhita jātadivasaṃ
Baca: Mayhang pituno sukhita jaatadiwasang
Bahasa: Pali
Arti: Hari lahir yang bahagia untuk ayahku; selamat hari lahir untuk ayahku; selamat hari ulang tahun untuk ayahku.
Fungsi: Sebagai ekspresi ucapan selamat hari lahir atau hari ulang tahun khusus untuk ayah/papa.
D/U: Dari seorang anak kepada ayahnya.
Contoh penggunaan: “Mayhaṃ pituno sukhita jātadivasaṃ! Dīghāyu bhavatu te.” (Selamat ulang tahun untuk ayahku! Semoga panjang umur).

Mayhaṃ ammāya sukhita jātadivasaṃ
Baca: Mayhang ammaata sukhita jaatadiwasang
Bahasa: Pali
Arti: Hari lahir yang bahagia untuk ibuku; selamat hari lahir untuk ibuku; selamat hari ulang tahun untuk ibuku.
Fungsi: Sebagai ekspresi ucapan selamat hari lahir atau hari ulang tahun khusus untuk ibu/mama.
D/U: Dari seorang anak kepada ibunya.
Contoh penggunaan: “Mayhaṃ ammāya sukhita jātadivasaṃ! Sukhaṃ balaṃ bhavatu te” (Selamat ulang tahun untuk ibuku! Semoga bahagia dan kuat).

Mayhaṃ ācariyāya sukhita jātadivasaṃ
Baca: Mayhang aacariyaaya sukhita jaatadiwasang
Bahasa: Pali
Arti: Hari lahir yang bahagia untuk guruku; selamat hari lahir untuk guruku; selamat hari ulang tahun untuk guruku.
Fungsi: Sebagai ekspresi ucapan selamat hari lahir atau hari ulang tahun khusus untuk guru.
D/U: Dari seorang siswa atau murid kepada gurunya.
Contoh penggunaan: “Mayhaṃ ācariyāya sukhita jātadivasaṃ! Sukhaṃ balaṃ bhavatu te” (Selamat ulang tahun untuk guruku! Semoga bahagia dan kuat)

Mayhaṃ suhadamittāya sukhita jātadivasaṃ
Baca: Mayhang kalyaanamittaya sukhita jaatadiwasang
Bahasa: Pali
Arti: Hari lahir yang bahagia untuk teman baikku; selamat hari lahir untuk teman baikku; selamat hari ulang tahun untuk teman baikku.
Fungsi: Sebagai ekspresi ucapan selamat hari lahir atau hari ulang tahun khusus untuk teman baik dalam kehidupan biasa.
D/U: Dari seorang kepada teman baiknya dalam kehidupan biasa.
Contoh penggunaan: “Mayhaṃ kalyāṇamittāya sukhita jātadivasaṃ! Dīghāyu vaṇṇo sukhaṃ balaṃ bhavatu te” (Selamat ulang tahun untuk temanku! Semoga panjang umur, rupawan, bahagia, kuat)

Mayhaṃ kalyāṇamittāya sukhita jātadivasaṃ
Baca: Mayhang kalyaanamittaya sukhita jaatadiwasang
Bahasa: Pali
Arti: Hari lahir yang bahagia untuk temanku; selamat hari lahir untuk temanku; selamat hari ulang tahun untuk temanku.
Fungsi: Sebagai ekspresi ucapan selamat hari lahir atau hari ulang tahun khusus untuk teman dalam kehidupan spiritual.
D/U: Dari seorang kepada teman dalam kehidupan spiritualnya.
Contoh penggunaan: “Mayhaṃ kalyāṇamittāya sukhita jātadivasaṃ! Dīghāyu vaṇṇo sukhaṃ balaṃ bhavatu te” (Selamat ulang tahun untuk temanku! Semoga panjang umur, rupawan, bahagia, kuat)

Ucapan Belasungkawa Buddhis

Ucapan Belasungkawa duka cita Buddhis

Saṃvegacitta
Baca: Sangwegacitta
Bahasa: Pali
Arti: Pikiran yang empati (emosi religius yang bergejolak karena hasil kontemplasi terhadap dukkha)
Fungsi: Sebagai ekspresi ungkapan rasa empati kepada kerabat dan kenalan yang sedang berada dalam suasana duka atau kematian. Saṃvegacitta merupakan pikiran disertai hal-hal batiniah yang kuat muncul sebagai tanggapan atas kejadian menggugah hati, mengarah ke perenungan pada pengetahuan kebenaran alamiah, misalnya pada saat kejadian orang yang dicinta/dihormat meninggal dunia.
D/U: Dari umat Buddhis kepada sesama Buddhis.
Contoh penggunaan: “Turut ber-saṃvegacitta atas meninggalnya Ibu/Bapak/Sudara/Saudari …”

Sugatiṃ vā saggaṃ lokaṃ uttariṃ vā upapajjatu bhavatu te
Baca: Sugating waa saggang lokang utaring waa upapajatu bhawatu te
Bahasa: Pali
Arti: Semoga mendiang terlahir di alam surga menyenangkan atau lebih dari itu.
Fungsi: Sebagai ekspresi harapan kepada mendiang yang telah meninggal.
D/U: Dari umat Buddhis kepada sesama Buddhis. Jika mendiang lebih dari 1 orang, kata upapajjatu diubah menjadi upapajjantu dan bhavatu berubah menjadi bhavantu.
Contoh penggunaan: “Turut ber-saṃvegacitta atas meninggalnya Ibu/Bapak/Sudara/Saudari … Sugatiṃ vā saggaṃ lokaṃ uttariṃ vā upapajjatu bhavatu te” (Turut ber-saṃvegacitta atas meninggalnya Ibu/Bapak/Sudara/Saudari … Semoga mendiang terlahir di alam surga menyenangkan atau lebih dari itu.)

Salam Buddhis Berdasarkan Waktu

Suppabhātaṃ
Baca: Su-ppabhaatang
Bahasa: Pali (Sanskterta: Suprabhātaṃ – su-prabhaatang; Śubha prabhāta – shubha prabhaata)
Arti: Subuh/fajar yang baik; selamat subuh/fajar.
Fungsi: Sebagai ekspresi kondisi baik dan salam pada waktu subuh/fajar hari – waktu terbitnya fajar hingga menjelang terbitnya Matahari.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Suppabhātaṃ, Bapak dan ibu sekalian.” (Selamat subuh/fajar, Bapak dan ibu sekalian.)

Supubbaṇhaṃ
Baca: Su-pubbanghang
Bahasa: Pali (Sankserta: Supūrvabhāgaṃ – su-puurwabhaagang; Śubha pūrvabhāga – shubha puurwabhaga)
Arti: Pagi yang baik; selamat pagi.
Fungsi: Sebagai ekspresi kondisi baik dan salam pada waktu pagi hari – waktu setelah Matahari terbit hingga menjelang siang hari.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Supubbaṇhaṃ, Bapak dan ibu sekalian.” (Selamat pagi, Bapak dan ibu sekalian.)

Sumajjhantikaṃ
Baca: Su-majhantikang
Bahasa: Pali (Sanskerta: Sumadhyāntikaṃ – su-madhyaantikang; Śubha madhyāntika – shubha madhyaantika)
Arti: Siang yang baik; selamat siang/tengah hari.
Fungsi: Sebagai ekspresi kondisi baik dan salam pada waktu siang/tengah hari – waktu setelah pagi hingga menjelang petang hari.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Sumajjhantikaṃ, Pak Guru.” (Selamat siang, Pak Guru.)

Svaparaṇhaṃ
Baca: Sva-paranhang
Bahasa: Pali (Sankserta: Svaparāhṇaṃ – sva-paraah-nyang; Śubha aparāhṇa – shubha aparaahnya)
Arti: Sore yang baik; selamat sore/petang.
Fungsi: Sebagai ekspresi kondisi baik dan salam pada waktu sore/petang hari – waktu setelah 12 siang hingga Matahari terbenam.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Suaparaṇhaṃ, Bu Guru.” (Selamat sore, Bu Guru.)

Susañjhāṃ
Baca: Su-sanyjhaang
Bahasa: Pali (Sanskerta: Susandhyāṃ – su-sandhyaang; Śubha sandhyā – shubha sandhyaa)
Arti: Senja yang baik; selamat senja/menjelang malam.
Fungsi: Sebagai ekspresi kondisi baik dan salam pada waktu senja/menjelang malam hari – waktu setelah Matahari terbenam hingga sebelum malam.
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Susañjhāṃ, Ayah.” (Selamat senja, Ayah.)

Susāyaṇhaṃ
Baca: Su-saayanhang
Bahasa: Pali (Sanskerta: Susāyāhnaṃ – su-saayaahnang; Śubha sāyāhna – shubha saayaahna; Śubha rātrī – shubha raatri)
Arti: Malam yang baik; selamat malam.
Fungsi: Sebagai ekspresi kondisi baik dan salam pada waktu malam hari – waktu setelah senja hingga sebelum fajar.
D/U : Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai salam menyapa umat Buddhis karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Susāyaṇhaṃ, Bunda.” (Selamat malam, Bunda.)

Ekspresi Penghargaan dan Syukur

Ucapan Terima Kasih Buddhis Thuti Atthu

Thuti atthu
Baca: Thuti at-thu
Bahasa: Pali
Arti: Penghargaan untuk Anda / terima kasih kepada Anda.
Fungsi: Sebagai ekspresi ucapan terima kasih seseorang atas nama pribadinya maupun orang lain setelah mendapatkan sesuatu dari orang lain. Yang ditekankan di sini adalah menerima sesuatunya. Dapat disingkat menjadi Thuti (terima kasih).
D/U: Dari umat Buddhis kepada seseorang baik Buddhis maupun non-Buddhis. Dapat juga di gunakan masyarakat umum sebagai ucapan terima kasih karena artinya yang umum.
Contoh penggunaan: “Demikian yang dapat saya sampaikan. Thuti atthu.” (Demikian yang dapat saya sampaikan. Terima kasih kepada Anda.)

Anumodanā
Baca: Anumodanaa
Bahasa: Pali
Arti: Turut menghargai (bersuka cita) atas perbuatan baik yang telah dilakukan;
Fungsi: Sebagai ekspresi turut menghargai (bersuka cita) atas tindakan perbuatan baik (kemoralan) yang telah dilakukan oleh seseorang terhadap pihak lain di luar pribadi si pengucap ekspresi. Yang ditekankan di sini adalah tindakan perbuatan baiknya.
D/U: Dari seorang umat Buddhis kepada Buddhis maupun non-Buddhis yang telah melakukan tindakan perbuatan baik terhadap pihak lain di luar pribadi si pengucap ekspresi. Jika diucapkan atas nama lebih dari satu orang (jamak) kata Anumodanā berubah menjadi Anumodāma (kami turut bersuka cita). Jika menekankan atas nama pribadi maka bisa menggunakan Anumodāmi (saya turut bersuka cita).
Contoh penggunaan: “Anumodanā, Teman,” ucap Aria kepada Nanda setelah mendengar bahwa Nanda telah mengajarkan anak-anak berkebutuhan khusus. “Anumodāma kepada para donatur yang telah berdana,” kata panitia Vesak kepada para donatur yang telah melakukan dana.

Abhiṭhuti ratanattayagunesu ca me katakusalesu
Baca: Abhithuti ratanattayagunesu ca me katakusalesu
Bahasa: Pali
Arti: Penghargaan tertinggi saya atas nilai-nilai luhur Tiratna dan kebajikan-kebajikan yang telah saya lakukan.
Fungsi: Sebagai ekspresi rasa menghargai secara tinggi, syukur kepada nilai-nilai luhur Tiratna dan kebajikan-kebajikan yang telah seseorang lakukan atas keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Penggunaan secara sehari-hari dapat disingkat menjadi Abhiṭhuti.
D/U: Dari seorang umat Buddhis kepada Tiratna (Buddha, Dhamma, Sangha) dan kebajikan-kebajikan yang telah dilakukannya.
Contoh penggunaan: “Abhiṭhuti ratanattayagunesu ca me katakusalesu. Akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas dengan baik. “Abhiṭhuti! Saya mendapatkan kehidupan yang berkecukupan.

Ekspresi Pujian dan Penghormatan kepada Buddha

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Baca: Namo tassa bhagawato arahato sammaasambud-dhassa
Bahasa: Pali
Arti: Terpujilah Sri Bhagavā, Sri Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna.
Fungsi: Sebagai ekspresi pujian kekaguman dan penghormatan kepada Buddha. Digunakan sebagai pujian dan penghormatan awal dan akhir dalam menyampaikan uraian berciri keagamaan, berpidato, atau menyatakan ungkapan hati dengan penuh kesungguhan, misalnya: saat bertekad dan bersumpah.
D/U : Dari umat Buddhis ataupun non-Buddhis kepada Buddha.
Contoh: “Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa. Namaste, Bapak dan ibu sekalian. Pada puja bakti kali ini …” (Terpujilah Sri Bhagavā, Sri Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna. Hormat saya kepada Anda, Bapak dan ibu sekalian. Pada puja bakti kali ini …)

Namo Buddhāya
Baca: Namo Bud-dhayaa
Bahasa: Sanskerta
Arti: Pujian dan penghormatan saya kepada Buddha
Fungsi: Sebagai ekspresi pujian kekaguman dan penghormatan kepada Buddha. Digunakan sebagai pujian dan penghormatan awal dan akhir dalam menyampaikan uraian berciri keagamaan, berpidato, atau menyatakan ungkapan hati dengan penuh kesungguhan, misalnya: saat bertekad dan bersumpah. Kata Buddhāya dapat diganti menjadi Dharmāya (Dharmaya), Saṃghāya (Sangghaya), Ratna Trayāya (Ratna trayaaya) sebagai pujian dan penghormatan kepada Dharma, Sangha, atau Tiga Permata.
D/U : Dari umat Buddhis ataupun non-Buddhis kepada Buddha.
Contoh: “Namo Buddhāya. Namaste, Bapak dan ibu sekalian. Pada puja bakti kali ini …” (Pujian dan penghormatan saya kepada Buddha. Hormat saya kepada Anda, Bapak dan ibu sekalian, pada puja bakti kali ini …)

Namatthu Buddhasa
Baca: Namathu Bud-dhasa
Bahasa: Pali
Arti: Pujian dan penghormatan saya kepada Buddha
Fungsi: Sebagai ekspresi pujian kekaguman dan penghormatan kepada Buddha. Digunakan sebagai pujian dan penghormatan awal dan akhir dalam menyampaikan uraian berciri keagamaan, berpidato, atau menyatakan ungkapan hati dengan penuh kesungguhan, misalnya: saat bertekad dan bersumpah.
D/U : Dari umat Buddhis ataupun non-Buddhis kepada Buddha.
Contoh: “Namatthu Buddhasa. Sotthi hontu, Bapak dan ibu sekalian, pada puja bakti kali ini …” (Pujian dan penghormatan saya kepada Buddha. Semoga kesejahteraan ada pada Anda sekalian, Bapak dan ibu sekalian, pada puja bakti kali ini …)

Ucapan Seruan / Pekik

Sādhu
Baca: Saadhu
Bahasa: Pali, Sanskerta
Arti: Bagus, benar, tepat, luar biasa, hal yang sangat baik, elok, syahdu.
Fungsi: Sebagai kata sifat penjelas dan sebagai ekspresi seruan penghargaan, pujian terhadap perkataan seseorang.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik yang Buddhis maupun non-Buddhis.
Contoh penggunaan: “Merupakan hal yang sādhu mengunjungi para petapa.” (Merupakan hal yang benar mengunjungi para petapa.); “Sādhu, Bhante! Anumodāma atas Dhammadesanā-nya.” (Luar biasa, Bhante! Kami turut bersuka cita atas pembabaran Dhamma-nya); “Sādhu, sādhu, sādhu, luar biasa pemikiran Anda.” (Bagus, bagus, bagus, luar biasa pemikiran Anda.)

Aho / Aha
Baca: Aho / Aha
Bahasa: Pali, Sanskerta
Arti: Aha, ah, oh.
Fungsi: Sebagai kata seru untuk mengekspresikan keterkejutan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, keheranan atau kekhawatiran.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik yang Buddhis maupun non-Buddhis.
Contoh penggunaan: “Aho! Lezat sekali makanan ini.” (Aha! Lezat sekali makanan ini); “Aho! Betapa malangnya hewan ini.” (Oh! Betapa malangnya hewan ini.); “Aha! Ada apa gerangan?” (Oh! Ada apa gerangan?); “Aho Sukhaṁ!” (Ah, bahagianya!); “Aho dukkhaṃ!”(Ah, deritanya!)

Vata
Baca: Wata
Bahasa: Pali (Sanskerta: Bata – baca: bata)
Arti: pasti, tentu, memang, sayang sekali, aduh, astaga.
Fungsi: Sebagai kata seru untuk mengekspresikan keterkejutan, ungkapan kesedihan, penyesalan.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik yang Buddhis maupun non-Buddhis.
Contoh penggunaan: “Vata! Ini seharusnya tidak terjadi.” (Aduh! Seharusnya ini tidak terjadi.)


Baca: Ha
Bahasa: Pali, Sanskerta
Arti: sayang sekali, aduh.
Fungsi: Sebagai kata seru untuk mengekspresikan kesakitan, kesedihan, kekesalan.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik yang Buddhis maupun non-Buddhis.
Contoh penggunaan: “! Ini seharusnya tidak terjadi.” (Aduh! Seharusnya ini tidak terjadi.)

Haṃ! / ambho! / hambho!
Baca: Hang / ambho / hambho
Bahasa: Pali, Sanskerta
Arti: hai, lihat sini, halo, saya katakan.
Fungsi: Sebagai kata seru untuk menarik perhatian.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik yang Buddhis maupun non-Buddhis.
Contoh penggunaan: “Haṃ! Coba kamu pegang benda ini.” (Hai! Coba kamu pegang benda ini.); “Hambho! Apakah kamu memperhatikan saya?” (Halo! Apakah kamu memperhatikan saya?)

Diṭṭhā!
Baca: Dittha
Bahasa: Pali
Arti: hore, syukurlah, untunglah.
Fungsi: Sebagai kata seru untuk kegembiraan dan rasa syukur, kelegaan.
D/U: Dari umat Buddhis kepada orang lain baik yang Buddhis maupun non-Buddhis, juga untuk diri sendiri.
Contoh penggunaan: “Dittha! Kamu tidak mengalami hal yang buruk.” (Untunglah! Kamu tidak mengalami hal yang buruk.); “Dittha! Akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas ini.” (Hore! Akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas ini.)

Ucapan Jawaban

Āma
Baca: Aama
Bahasa: Pali
Arti: Iya, ya.
Fungsi: Sebagai kata untuk menjawab dan menyatakan setuju (membenarkan dan sebagainya).
D/U: Dari umat Buddhis kepada umat Buddhis lainnya maupun non-Buddhis.
Contoh penggunaan: “Apakah kamu melihatnya?” Jawab: “Āma, saya melihatnya.” (Iya, sama melihatnya.)

Natthi
Baca: Natthi
Bahasa: Pali
Arti: Tidak, bukan.
Fungsi: Sebagai kata untuk menjawab dan menyatakan tidak setuju (menolak, menepis dan sebagainya).
D/U: Dari umat Buddhis kepada umat Buddhis lainnya maupun non-Buddhis.
Contoh penggunaan: “Apakah kamu melihatnya?” Jawab: “Natthi, saya tidak melihatnya.” (Tidak, saya tidak melihatnya.)

Bhavatu
Baca: Bhawatu
Bahasa: Pali, Sanskerta
Arti: Semoga, mudah-mudahan, hendaknya.
Fungsi: Sebagai jawaban atau tanggapan terhadap suatu pernyataan atau harapan. Juga dapat digunakan sebagai ungkapan awal suatu harapan.
D/U: Dari umat Buddhis kepada umat Buddhis lainnya maupun non-Buddhis. Jika berkaitan dengan lebih dari satu hal (jamak) berubah menjadi bhavantu.
Contoh penggunaan: “Icchitaṃ patthitaṃ tuyhaṃ, kippameva samijjhatu bhavatu te.” Jawab: Bhavantu! (Semoga harapan dan cita-cita Anda segera tercapai. Jawab: Semoga!)

Evaṃ hotu / Evaṃ bhavatu
Baca: Ewang hotu / Ewang bhavatu
Bahasa: Pali
Arti: Semoga demikian adanya.
Fungsi: Sebagai jawaban atau tanggapan menyetujui terhadap suatu pernyataan atau harapan.
D/U: Dari umat Buddhis kepada umat Buddhis lainnya maupun non-Buddhis. Jika berkaitan dengan lebih dari satu hal (jamak) kata hotu berubah menjadi hontu dan kata bhavatu menjadi bhavantu.
Contoh penggunaan: “Semoga hujan datang tepat pada waktunya.” Jawab: Evaṃ hotu (Semoga demikian adanya.); “Semoga semua musim tepat pada waktunya.” Jawab: Evaṃ hontu (Semoga semuanya demikian adanya.)

Cara membaca bahasa Pali

a, i, u : dibaca dengan vokal pendek    
ā, ī, ū, e, o : dibaca dengan vokal panjang (aa, ii, uu, ee, oo)
dan dibaca ng
ñ dibaca ny
ññ dibaca nny
v dibaca w

Referensi:

  1. Dokumen Kesepakatan Sangha Theravada Indonesia (STI) Nomor: 016/STI/VI/2015.
  2. Hypertext Sanskrit-English / English-Sanskrit Dictionary for Spoken Sanskrit, VERSION 2.1.
  3. A.P. Buddhadatta Mahathera, Concise Pali-English and English-Pali Dictionary.
  4. PTS Pāli-English Dictionary, Edited by: T.W. Rhys Davids dan William Stede.
  5. Pali Canon E-Dictionary Version 1.94 (PCED)

Catatan:
Contoh salam Buddhis dan ekspresi harapan Buddhis dalam bahasa Pali dan Sanskerta di atas hanyalah sebagian kecil dari kosa kata yang ada dalam bahasa Pali maupun Sanskerta. Dan susunan kalimat dalam contoh-contoh di atas bersifat tidak tetap, tetapi bisa dirangkai menjadi susunan kalimat lainnya yang berbeda-beda dengan penambahan kata yang berbeda-beda pula. Kemahiran berbahasa Pali dan Sanskerta sangat disarankan untuk menciptakan kalimat-kalimat baru.

Kritik dan saran membangun untuk artikel ini dapat disampaikan melalui email atau pesan di facebook.com/Bhagavant/

Rekomendasikan

Dengan label: