Mengambil Langkah

Idealnya, akan benar-benar indah jika segala sesuatu bisa menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi kebenarannya adalah dalam hidup banyak hal yang tidak berada dalam kendali kita. Namun, saat kita berada di sebuah posisi untuk membuat sebuah pilihan, kita sering tidak melakukannya. Kesempatan yang mengarah pada jenis kehidupan yang kita harapkan ada di hadapan kita, tapi kita tidak mengambil tindakan apa pun. Pada akhirnya, kita tidak bisa menyalahkan keadaan kita; kita sendirilah yang tidak membuat gerakan untuk mengubah keadaan kita.

Hal ini seperti seorang pria berdiri di tengah sebuah lubang kotoran. Di depannya sebuah mata air yang tenang dengan bunga teratai yang menakjubkan yang mengapung di air yang jernih. Keindahannya membuat ia menghelakan napas. “Betapa luar biasanya jika berada di sana, di mata air dengan bunga-bunga indah yang bermekaran itu!” Keinginan yang sangat mengisi perasaannya. Mata air tersebut sebenarnya sangat dekat; jika ia melangkah satu langkah saja, ia dapat pergi ke sana dan menikmati keindahannya yang menakjubkan. Namun, ia tetap di mana ia berada, penuh dengan keinginan akan mata air tersebut dan penuh dengan kekesalan akan kondisi-kondisi di mana ia berada di dalamnya. Sebenarnya, tidak seorang pun yang mencegahnya dari mata air tersebut; diri sendirinyalah yang tidak pergi ke sana.

Hal yang sama terjadi di dalam praktik spiritual kita. Kita penuh dengan kesukaran, pikiran kita terganggu, perasaan kita tidak bahagia; kita tidak mampu untuk menyadari bahwa dalam kenyataannya, kesukaran kita adakah karena kekotoran batin kita, ilusi kita, dan kebutaan kita terhadap kebenaran.

Sri Buddha telah memberikan banyak pengajaran dalam upaya untuk menyadarkan kita. Karena kita masing-masing memiliki tingkat pemahaman yang berbeda, Sri Buddha mengajarkan kebenaran dalam banyak cara, dengan demikian kita mungkin dapat memahami ajaran-ajaran tersebut dan memurnikan perasaan dan pikiran kita. Ajaran-ajaran ini – Dharma – seperti air murni yang dapat membersihkan kesukaran dan kekotoran batin kita.

Tetapi ketika mendengarkan ajaran tersebut, kita sering tidak benar-benar memasukkannya ke dalam batin. Kita mengatakan kita memahaminya, tapi kita tidak benar-benar menghargai maknanya. Dharma tersebut tidak masuk ke dalam batin kita, dan kita tidak tersadarkan dari kebiasaan cara berpikir dan berbuat kita.

Masih terjebak dalam ilusi kita, oleh karena itu kita penuh dengan kesukaran yang mengikat pikiran dan perasaan kita dalam simpul-simpul. Kita merasakan banyak sekali penderitaan dan jauh dari kebahagiaan dan kedamaian batin, tidak pernah menyadari bahwa semua yang perlu kita lakukan adalah menggunakan air Dharma dan memurnikan pikiran dan perasaan kita.

Segala sesuatu datang hanya dari pikiran saja, Sri Buddha menjelaskan. Kebahagiaan dan kedamaian yang besar dapat menjadi milik kita, jika kita mengambil hanya satu langkah menjauh dari lubang kotoran dan menuju mata air yang indah.

– Selesai –

Judul Asli: Taking the Step
Oleh: Y.M. Cheng Yen
Sumber: Dharma Master Cheng Yen’s Talks – Master’s Teachings, 4 Agustus 2010, Tzu Chi Foundation, Tzuchi.org
Diterjemahkan oleh: Tim Editorial bahasa Inggris Griya Jing Si/Jing Si Abode (dari Mandarin ke Inggris), Bhagavant.com (dari Inggris ke Indonesia).

Rekomendasikan

 
Tersimpan di Artikel Buddhis, Umum Dengan label: ,