Mengapa Kita Ada di Sini ?

Pada masa Vassa kali ini, saya tidak mempunyai banyak tenaga, saya tidak begitu sehat, jadi saya datang ke pegunungan ini untuk mendapatkan udara segar. Orang-orang datang berkunjung, tetapi saya tidak benar-benar dapat menerima mereka seperti biasanya karena suara saya sudah hampir habis, dan nafas saya sudah hampir tiada. Kalian dapat menganggapnya sebagai sebuah berkah dengan masih adanya tubuh yang sedang duduk di sini untuk kalian lihat sekarang. Ini adalah pemberkahan di dalam dirinya sendiri. Tak lama lagi kalian tidak akan melihatnya lagi. Nafas akan berakhir, suara akan hilang. Sang Buddha menyebutnya khaya-vayam, kemerosotan dan penghancuran semua fenomena yang berkondisi.

Bagaimana caranya mereka mengalami kemerosotan? Ambil contoh sebongkah es. Pada mulanya ia hanyalah air… mereka membekukannya dan ia menjadi es. Tapi tidak diperlukan waktu yang lama sebelum ia mencair. Ambil sebongkah es yang besar, katakanlah sebesar tape recoder ini, dan biarkanlah ia diterpa sinar matahari. Kalian dapat melihat bagaimana ia berkurang, seperti halnya dengan tubuh kita. Ia akan secara bertahap terurai. Dalam beberapa jam atau menit saja, yang tinggal hanyalah kubangan air. Ini yang disebut khaya-vayam, melapuk dan terurainya semua benda-benda yang berkomposisi. Hal ini telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama, dimulai sejak berawalnya waktu. Ketika kita lahir, kita membawa sifat alamiah yang tak terpisahkan ini ke dunia bersama kita, kita tidak dapat menghindarinya. Pada saat lahir, kita membawa usia tua, sakit dan kematian bersama kita.

Jadi, inilah mengapa Sang Buddha menyebutnya khaya-vayam, melapuk dan terurainya semua benda-benda berkomposisi. Kita semua yang duduk di ruangan ini sekarang, para bhikkhu, samanera, umat awam pria dan wanita, tidak terkecuali adalah “bongkahan yang akan hancur”. Untuk saat ini bongkahannya masih keras, seperti bongkahan es. Ia bermula dari air, menjadi es untuk beberapa saat dan kemudian mencair lagi. Dapatkah kalian lihat perubahan ini di dalam diri kalian? Lihatlah tubuh ini. Dia menjadi semakin tua setiap hari… rambut menua, kuku menua… semuanya menjadi tua!

Kalian tidak seperti ini sebelumnya, bukan ? Kalian mungkin jauh lebih kecil. Sekarang kalian sudah tumbuh berkembang dan dewasa. Mulai dari sekarang kalian akan merosot, mengikuti jalan alamiah. Tubuh akan melapuk, sama seperti bongkahan es. Tak lama lagi, seperti es, semuanya akan hilang. Semua tubuh terdiri dari empat unsur dari tanah, air, angin dan api. Tubuh adalah tempat pertemuan dari tanah, air, angin dan api, yang kemudian kita sebut sebagai orang. Awalnya sangat sulit untuk menyebutkan panggilan apa yang akan kalian pakai, tetapi kini kita menyebutnya “orang”. Kita dibodohi olehnya, menyebutnya seorang pria, wanita, memberinya nama-nama, Tuan, Nyonya, dan seterusnya, supaya kita dapat menandai satu sama lain dengan lebih mudah. Tetapi sebenarnya tidak ada seorang pun di sana. Mereka hanyalah tanah, air, angin, dan api. Ketika mereka datang berkumpul dalam bentuk ini, kita menyebutnya sebagai “orang”. Sekarang, janganlah terlalu bersemangat akan hal ini. Jika kalian benar-benar melihat ke dalamnya, tidak ada seorang pun di sana.

Yang bersifat padat di dalam tubuh, daging, kulit, tulang dan seterusnya, disebut unsur tanah. Bagian-bagian tubuh yang bersifat cair adalah unsur air. Bagian tubuh yang hangat adalah unsur api, sedangkan udara yang mengalir dalam tubuh adalah unsur angin.

Di Wat Pah Pong, kita mempunyai sebuah tubuh yang bukan pria maupun wanita. Ia adalah tengkorak yang tergantung di ruangan utama. Dengan melihatnya, kalian tidak memiliki perasaan bahwa ia adalah pria ataupun wanita. Orang-orang saling bertanya apakah itu seorang pria atau wanita dan kemudian satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah melongo satu sama lain. Ia hanyalah sebuah tengkorak, semua kulit dan dagingnya telah hilang.

Kebanyakan orang tidak memperdulikan hal-hal ini. Beberapa orang pergi ke Wat Pah Pong, masuk ke ruangan utama, melihat tengkorak… dan mereka langsung berlarian keluar lagi! Mereka tidak tahan melihatnya. Mereka takut, takut kepada tengkorak. Saya menduga orang-orang ini tidak pernah melihat diri mereka sendiri sebelumnya. Takut akan tengkorak… mereka tidak merenungkan nilai yang begitu besar dari sebuah tengkorak. Untuk pergi ke vihara, mereka harus mengendarai mobil atau berjalan kaki… jika mereka tidak mempunyai tulang, akan bagaimana mereka jadinya ? Dapatkah mereka berjalan seperti itu ? Tapi mereka mengendarai mobil ke Wat Pah Pong, masuk ke ruang utama, melihat tengkorak dan langsung berlarian keluar lagi! Mereka tidak pernah melihat benda seperti ini sebelumnya. Mereka dilahirkan dengan tengkorak, namun mereka tidak pernah melihatnya. Sangatlah beruntung jika mereka mempunyai kesempatan untuk melihatnya sekarang. Bahkan orang-orang tua ketika melihat tengkorak, menjadi takut… Ada gerangan apa ini semua? Ini menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak dekat dengan diri mereka sendiri, mereka tidak benar-benar mengenali diri mereka sendiri. Mungkin mereka pulang ke rumah dan tetap tidak bisa tidur selama tiga atau empat hari… namun sebenarnya mereka sendiri tidur dengan tengkorak! Mereka berpakaian dengannya, makan dengannya, melakukan semuanya dengannya….namun mereka takut kepadanya.

Ini menunjukkan sudah sebegitu jauh orang-orang dari diri mereka sendiri. Begitu memprihatinkan! Mereka selalu melihat ke luar, pada pohon-pohon, pada orang-orang lain, pada objek-objek eksternal, mengatakan “yang satu ini besar”, “yang itu kecil”, “yang itu pendek”, “yang itu panjang”. Mereka begitu sibuk memperhatikan benda-benda yang tidak pernah mereka lihat sendiri sebelumnya. Secara jujur, orang-orang sungguh memprihatinkan. Mereka tidak mempunyai tempat berlindung.

Pada upacara pentahbisan, yang ditahbiskan harus mempelajari lima objek dasar meditasi: “kesa”, rambut kepala; “loma”, bulu roma tubuh; “nakha”, kuku; “danta”, gigi; “taco”, kulit. Beberapa orang mahasiswa dan kaum terpelajar tertawa cekikikan ketika mendengar bagian dari upacara pentahbisan ini… “Apa sih yang coba diajarkan oleh Ajahn kepada kita di sini? Mengajarkan kita tentang rambut ketika kita sudah memilikinya bertahun-tahun. Dia tidak perlu mengajari kita tentang ini, kita sudah mengetahuinya. Kenapa harus repot-repot mengajari kita sesuatu yang sudah kita ketahui?”. Orang-orang yang bodoh adalah seperti ini, mereka mengira mereka sudah dapat melihat rambut mereka. Saya mengatakan kepada mereka, ketika saya menyuruh untuk “melihat rambut”, maksud saya adalah untuk melihatnya sebagaimana adanya. Melihat bulu roma tubuh sebagaimana adanya, memandang kuku, gigi dan kulit sebagaimana adanya. Itulah yang saya sebut “melihat” – bukan melihat dengan cara yang dangkal, tetapi melihat sesuai dengan kebenaran. Kita tidak akan terbenam dalam benda-benda, bila kita dapat melihat benda-benda sebagaimana mereka adanya. Rambut, kuku, gigi dan kulit… Apakah sebenarnya mereka itu? Apakah mereka cantik? Apakah mereka bersih? Apakah mereka memiliki substansi yang nyata? Apakah mereka stabil? Tidak… mereka itu tidak ada apa-apanya. Mereka tidak cantik, tapi kitalah yang membayangkan mereka cantik. Mereka tidak memiliki substansi, tapi kitalah yang membayangkan mereka seolah-olah memiliki substansi.

Rambut, kuku, gigi, kulit… orang benar-benar terpaku pada hal-hal ini. Sang Buddha menetapkan ini sebagai objek dasar untuk meditasi, beliau mengajarkan kita untuk mengetahui hal-hal ini. Mereka itu fana, tidak sempurna dan tidak mempunyai pemilik; mereka bukanlah “saya” atau “mereka”. Kita lahir dengan diikuti dan dibohongi oleh hal-hal ini, tapi memang benar mereka itu kotor. Anggaplah kita tidak mandi selama seminggu, sanggupkah kita untuk berdekatan satu sama lain ? Kita akan menjadi sangat bau. Ketika orang berkeringat banyak, misalnya ketika banyak orang bekerja keras bersama-sama, baunya minta ampun. Kita pulang ke rumah dan membasuh diri kita dengan sabun dan air dan baunya hilang seketika, wangi dari sabun menggantikannya. Menggosokkan sabun ke tubuh bisa saja membuatnya seolah-olah wangi, tapi sebenarnya bau busuk dari tubuh itu tetap di sana, hanya untuk sementara saja ditutupi. Ketika wangi sabun hilang, bau badan akan kembali lagi.

Sekarang, kita cenderung berpikir bahwa tubuh kita ini indah, penuh kenikmatan, tahan lama dan kuat. Kita cenderung berpikir bahwa kita tidak akan pernah tua, sakit atau mati. Kita dirayu dan ditipu oleh tubuh kita, dan kita begitu mengacuhkan tempat perlindungan yang sebenarnya di dalam diri kita sendiri. Tempat berlindung yang sebenarnya adalah batin kita. Batin adalah tempat perlindungan kita yang sejati. Ruangan ini bisa saja cukup besar tetapi ia tidak bisa menjadi tempat perlindungan yang sejati. Burung merpati berlindung di sini, tokek berlindung di sini, kadal pun berlindung di sini…. Kita boleh berpikir bahwa ruangan ini milik kita, tapi sebenarnya bukan. Kita tinggal di sini bersama-sama dengan semua yang lain. Ini hanya tempat perlindungan sementara, tak lama lagi kita harus meninggalkannya. Orang-orang menganggap tempat ini sebagai tempat untuk berlindung.

Jadi, Sang Buddha mengajarkan untuk menemukan tempat perlindungan kalian. Itu artinya untuk menemukan batin kalian yang sebenarnya. Batin ini sangatlah penting. Orang-orang jarang melihat pada hal-hal yang penting, mereka menghabiskan kebanyakan waktu mereka untuk memperhatikan hal-hal yang tidak penting. Sebagai contoh, ketika mereka membersihkan rumah, mereka begitu berkonsentrasi membersihkan rumah, mencuci piring dan seterusnya, tapi mereka gagal memperhatikan batin mereka sendiri. Batin mereka mungkin sudah busuk, mereka mungkin merasa marah, mencuci piring dengan wajah cemberut. Ketika batin mereka tidak begitu bersih, mereka gagal memperhatikannya. Inilah yang saya sebut “mengambil tempat perlindungan yang sementara”. Mereka memperindah rumah dan tempat tinggal, tapi mereka tidak berpikir untuk memperindah batin mereka. Mereka tidak mengkaji penderitaan. Batin ini adalah sesuatu yang penting. Sang Buddha mengajarkan untuk menemukan tempat perlindungan di dalam batin kalian sendiri: Atta hi attano natho – “Jadikanlah dirimu sebagai tempat berlindung bagi dirimu sendiri”. Siapa lagi yang bisa menjadi tempat perlindungan bagi kalian? Tempat perlindungan yang sejati adalah batin, tidak ada yang lain. Kalian bisa saja mencoba untuk bergantung kepada hal-hal lain, tapi mereka semua bukanlah hal yang pasti. Kalian baru dapat benar-benar bergantung pada yang lain, hanya jika kalian sudah menemukan tempat perlindungan di dalam diri kalian sendiri. Kalian harus memiliki tempat perlindungan sendiri terlebih dahulu sebelum kalian dapat bergantung pada yang lainnya, apakah itu seorang guru, keluarga, teman-teman ataupun kerabat.

Jadi, kalian semuanya, baik umat awam maupun yang sudah meninggalkan rumah, yang telah berkunjung hari ini, tolong pertimbangkan ajaran ini. Tanyakanlah diri kalian sendiri, “Siapakah saya? Mengapa saya ada di sini?” Tanyalah diri kalian sendiri, “Mengapa saya dilahirkan?” Beberapa orang tidak mengetahuinya. Mereka menginginkan kebahagiaan, tetapi penderitaan tak pernah berhenti. Kaya atau miskin, muda atau tua, mereka sama-sama menderita. Semuanya adalah penderitaan. Dan mengapa? Karena mereka tidak memiliki kebijaksanaan. Yang miskin tidak bahagia karena mereka tak berkecukupan, dan yang kaya tidak bahagia karena terlalu banyak yang harus mereka jaga.

Di masa lalu, sebagai seorang samanera muda, saya memberikan khotbah Dhamma. Saya berbicara tentang kebahagiaan karena memiliki kekayaan dan harta benda, memiliki pembantu-pembantu dan seterusnya. Seratus orang pembantu pria, seratus orang pembantu wanita, seratus ekor gajah, seratus ekor sapi, seratus ekor kerbau… seratus dari semuanya! Umat awam sungguh mendambakannya. Tetapi bisakah kalian bayangkan untuk menjaga seratus ekor kerbau? Atau seratus ekor sapi, seratus orang pembantu pria dan wanita… dapatkah kalian bayangkan kewajiban untuk menjaga semuanya itu? Apakah itu menyenangkan? Orang-orang tidak mempertimbangkan dari sisi ini. Mereka bernafsu untuk memiliki… memiliki sapi, kerbau, pembantu… ratusan dari mereka. Tetapi saya katakan lima puluh ekor kerbau saja sudah terlalu banyak. Hanya mengikat tali untuk hewan-hewan liar itu saja sudah terlalu banyak! Tetapi orang tidak mempertimbangkan hal ini, mereka hanya memikirkan kenikmatan untuk memiliki. Mereka tak mempertimbangkan kesulitan yang akan timbul.

Jika kita tidak mempunyai kebijaksanaan, semua yang ada di sekeliling kita akan menjadi sumber penderitaan. Jika kita bijaksana, maka hal-hal ini akan menuntun kita untuk bebas dari penderitaan. Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran… Mata tidak sepenuhnya benda yang baik, kalian tahu. Jika suasana hati kalian sedang tidak bagus, hanya dengan melihat orang lain saja akan membuat kalian marah dan mengakibatkan kalian tidak bisa tidur. Atau kalian bisa jatuh cinta pada orang lain. Cinta itu juga penderitaan, jika kalian tak mendapatkan apa yang kalian inginkan. Cinta dan benci dua-duanya merupakan penderitaan, disebabkan karena adanya nafsu. Keinginan adalah penderitaan, ketidakinginan adalah penderitaan. Keinginan untuk memiliki sesuatu… bahkan jikalau kalian mendapatkannya, tetap merupakan penderitaan karena kalian takut akan kehilangannya. Hanya ada penderitaan. Bagaimana kalian akan hidup dengan semua itu? Kalian mungkin memiliki rumah yang besar dan mewah, tapi batin kalian tidak bagus, ia tidak pernah benar-benar bekerja seperti yang kalian harapkan.

Oleh sebab itu, kalian semua seharusnya memperhatikan diri kalian sendiri. Mengapa kita dilahirkan? Apakah kita benar-benar sudah mencapai sesuatu dalam hidup ini? Di pedesaan di sini, orang-orang mulai menanam padi sejak masih kanak-kanak. Ketika mereka mencapai usia tujuh belas atau delapan belas, mereka cepat-cepat menikah, khawatir kalau-kalau mereka tidak memiliki cukup waktu untuk memperbaiki nasib mereka. Mereka mulai bekerja sejak usia muda, mengira mereka akan menjadi kaya dengan cara itu. Mereka menanam padi sampai mereka berusia tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Saya tanya mereka, “Sejak dari lahir, anda sudah bekerja. Sekarang, waktunya hampir tiba untuk pergi, apa yang akan anda bawa pergi bersama anda?” Mereka tidak tahu apa yang harus diucapkan. Satu-satunya yang bisa mereka katakan adalah, “Pukullah saya!” Kita mempunyai sebuah peribahasa untuk yang satu ini, “Jangan menunggu sambil memunguti biji berry sepanjang jalan… sebelum anda menyadarinya, malam telah tiba.” Hanya karena ini “Pukullah saya!” Mereka tidak di sini ataupun di sana, puas hanya dengan sebuah “pukullah saya” … duduk di antara cabang-cabang dari pohon berry, sambil menelan biji berry… “Pukullah saya, pukullah saya…

Ketika kalian masih muda, kalian berpikir bahwa menjadi seorang single tidaklah begitu bagus, kalian merasa agak kesepian. Jadi kalian mencari pasangan untuk hidup bersama. Bersama-sama berdua dan selanjutnya, timbullah perselisihan! Hidup sendiri terlalu sepi, tapi tinggal dengan yang lain menyebabkan perselisihan.

Ketika anak-anak masih kecil, para orang tua berpikir, “Ketika mereka sudah lebih besar, kita akan lebih baik dari sekarang.” Mereka membesarkan anak-anak mereka, tiga, empat, atau lima orang, sambil berpikir bahwa bila anak-anak sudah besar, beban mereka akan menjadi lebih ringan. Tetapi ketika anak-anak tumbuh besar, mereka malah semakin memberatkan. Seperti dua potong kayu, satu besar dan satu lagi kecil. Kalian membuang yang kecil dan mengambil yang lebih besar, mengira yang satu ini lebih ringan, tapi tentu saja tidak. Ketika anak-anak masih kecil, mereka tidak banyak mengganggu kalian, hanya semangkuk nasi dan pisang pada saat itu. Ketika mereka tumbuh besar, mereka menginginkan sepeda motor atau mobil! Begitulah, kalian menyayangi anak-anak kalian, kalian tak bisa menolak. Jadi kalian mencoba memberikan apa yang mereka inginkan. Masalah… Kadang-kadang para orangtua sampai berdebat tentang hal ini… Jangan pergi dan membelikannya mobil, kita belum punya uang yang cukup! Tetapi ketika kalian menyayangi anak-anak kalian, kalian terpaksa meminjam uang dari suatu tempat. Atau barangkali si orangtua bahkan harus pergi dengan tangan kosong untuk mendapatkan apa yang diinginkan anak-anak mereka. Lalu ada lagi yang namanya pendidikan. Ketika mereka sudah menyelesaikan pendidikan mereka, kita akan baik-baik saja. Tak akan ada akhirnya dalam menuntut ilmu! Apa yang akan mereka selesaikan? Hanya di dalam ilmu pengetahuan dari agama Buddha saja terdapat titik penyelesaian, ilmu-ilmu pengetahuan yang lain hanya berputar-putar dalam lingkaran. Pada akhirnya, benar-benar sakit kepala. Jika ada sebuah rumah dengan empat atau lima anak di dalamnya, orangtua akan bertengkar terus setiap hari.

Penderitaan yang sedang menunggu di masa depan, kita gagal melihatnya, kita mengira ia tidak akan pernah terjadi. Ketika ia terjadi, baru kita menyadarinya. Penderitaan jenis ini, penderitaan yang tak terpisahkan di dalam tubuh kita, sangat sulit untuk diantisipasi. Ketika saya masih seorang anak kecil penggembala kerbau, saya akan mengambil kapur dan menggosokkannya ke gigi saya untuk membuatnya menjadi putih. Saya akan pulang ke rumah dan berkaca dan melihat mereka sungguh indah dan putih… Saya sedang ditipu oleh gigi-gigi saya sendiri, itu saja. Ketika saya mencapai usia lima puluh atau enam puluh, gigi-gigi saya mulai rontok. Ketika gigi mulai lepas, ia sangat menyakitkan, ketika kalian makan, rasanya seperti ditendang di mulut. Ia benar-benar menyakitkan. Saya sudah pernah mengalaminya sekali. Jadi saya meminta dokter gigi untuk mencabut semuanya. Kini, saya memakai gigi palsu. Gigi asli saya begitu merepotkan sehingga saya harus mencabut semuanya, enam belas buah sekaligus. Si dokter gigi tersebut enggan mencabut ke enam belas gigi sekaligus, tapi saya bilang kepadanya, “Cabut saja semuanya, saya yang akan menanggung akibatnya.” Jadi dia pun mencabut semuanya sekaligus. Beberapa buah ada yang masih bagus, paling tidak ada lima. Cabut semuanya. Tapi keadaannya cukup kritis. Setelah mencabut semuanya, saya tidak dapat makan apapun selama dua atau tiga hari.

Sebelumnya, sebagai seorang anak kecil penggembala kerbau, saya biasanya berpikir bahwa menggosok-gosok gigi sampai kilat adalah tindakan yang bagus. Saya menyayangi gigi saya, saya berpikir mereka adalah benda-benda yang bagus. Tapi pada akhirnya mereka harus pergi. Sakitnya hampir membunuh saya. Saya menderita sakit gigi selama berbulan-bulan, bertahun-tahun. Kadang-kadang gusi saya juga bengkak.

Beberapa dari kalian mungkin memiliki kesempatan untuk mengalami sendiri hal ini suatu hari nanti. Kalau gigi kalian masih bagus dan kalian menggosoknya setiap hari untuk membuatnya tetap indah dan putih… berhati-hatilah! Mereka akan mulai bermain-main dengan kalian selanjutnya.

Sekarang, saya hanya memberitahukan kalian tentang hal-hal ini… penderitaan yang timbul dari dalam, yang muncul dari dalam tubuh kita sendiri. Tidak ada apa pun dalam tubuh yang bisa kalian jadikan pegangan. Dia tidak begitu buruk ketika kalian masih muda, tapi ketika kalian mulai beranjak tua, semuanya mulai rusak. Semuanya mulai tercerai berai. Kondisi ini berjalan sesuai sifat alamiah mereka. Apakah kita menertawai ataupun menangisi mereka, mereka tetap akan melalui jalan mereka. Tak ada perbedaan bagaimana cara kita hidup atau mati, tidak ada bedanya bagi mereka. Dan tidak ada ilmu pengetahuan ataupun sains yang mampu mencegah jalur alamiah dari semua benda ini. Kalian mungkin menemui dokter gigi untuk merawat gigi kalian, tapi bahkan jikalau dia mampu mengobatinya, mereka selanjutnya akan tetap pergi menurut jalur alamiah mereka. Selanjutnya bahkan si dokter gigi sendiri akan mendapatkan masalah yang sama. Semuanya akan hancur tercerai berai.

Inilah hal-hal yang seharusnya kita renungkan selagi kita masih mempunyai tenaga, kita seharusnya berlatih selagi kita masih muda. Jika kalian ingin melakukan kebajikan, maka lakukanlah segera, jangan tunggu sampai tua. Kebanyakan orang hanya menunggu sampai mereka tua sebelum akhirnya mereka pergi ke vihara dan mencoba mempraktekkan Dhamma. Wanita dan pria mengatakan hal yang sama… “Tunggu sampai saya tua dulu.” Saya tidak tahu mengapa mereka berkata seperti itu, apakah orang yang tua memiliki tenaga yang lebih besar? Biarkan mereka mencoba berlomba lari dengan orang yang muda dan lihatlah perbedaannya. Mengapa mereka membiarkannya sampai mereka tua? Seolah-olah mereka tidak akan pernah mati. Ketika mereka mencapai usia lima puluh atau enam puluh tahun atau lebih… “Hai, Nenek! Mari kita pergi ke vihara!” “Kamu saja yang pergi, telinga saya tidak begitu bagus lagi.” Kalian lihat apa yang saya maksud? Ketika telinganya masih bagus apa yang dia dengarkan? “Pukullah saya!”… hanya tergila-gila dengan biji berry. Pada akhirnya ketika pendengarannya menghilang, dia baru pergi ke vihara. Sungguh tidak ada harapan. Dia mendengarkan khotbah tapi dia tidak memahami apa yang dibicarakan. Orang-orang menunggu sampai mereka tidak berguna lagi sebelum akhirnya mereka berpikir untuk mempraktekkan Dhamma.

Pembicaraan hari ini mungkin berguna bagi anda-anda yang bisa memahaminya. Ini adalah hal-hal yang seharusnya mulai kalian perhatikan, mereka adalah warisan kita. Mereka akan setahap demi setahap semakin berat dan semakin berat, sebuah beban yang harus kita tanggung. Di masa lalu kaki-kaki saya begitu kuat, saya dapat berlari. Kini, hanya berjalan berkeliling saja sudah terasa berat. Sebelumnya, kaki-kaki ini menopang saya. Sekarang, saya lah yang harus membawa mereka. Ketika saya masih seorang anak kecil, saya melihat orang-orang tua bangkit dari tempat duduk mereka… “Oh!” Bangkit dari duduk, mereka mengerang, “Oh!” Selalu saja ada ini “Oh!” Tetapi mereka tidak mengetahui apa yang menyebabkan mereka mengerang seperti itu.

Bahkan ketika sudah sampai pada tahapan ini, orang-orang tidak juga melihat racun dari tubuh ini. Kalian tidak pernah tahu kapan kalian akan berpisah darinya. Apa yang menyebabkan semua rasa sakit ini hanyalah suatu kondisi yang berjalan sesuai jalur alamiahnya. Orang menyebutnya arthritis, rematik, penyakit tulang dan seterusnya, dokter memberikan resep obat, tapi itu tidak pernah menyembuhkannya secara total. Pada akhirnya, ia akan tercerai berai, bahkan si dokter sendiri! Ini adalah kondisi yang berjalan sesuai dengan jalur alamiahnya. Ini adalah jalan mereka, sifat alamiah mereka.

Sekarang, coba lihatlah ini. Jika kalian memperhatikannya sedari awal, akan lebih baik bagi kalian, seperti melihat seekor ular berbisa di jalan yang akan kalian lalui. Jika kalian melihatnya di sana, kalian bisa menghindarinya dan tidak terkena gigitannya. Jika kalian tidak melihatnya, kalian akan terus berjalan dan menginjaknya. Dan kemudian ia akan menggigit.

Jika penderitaan muncul, orang tidak tahu apa yang akan dilakukan. Ke mana untuk mengobatinya? Mereka ingin menghindari penderitaan, mereka ingin bebas darinya, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengobatinya ketika ia muncul. Dan mereka terus-menerus hidup seperti ini sampai mereka tua… dan sakit… dan mati….

Di zaman dahulu, dikatakan bahwa jika seseorang sudah hampir mati karena penyakit parah, orang yang berada di dekatnya seharusnya membisikkan “Bud-dho, Bud-dho” di telinga mereka. Apa yang akan mereka lakukan dengan Buddho? Kebaikan apa dari Buddho bagi mereka yang sudah hampir berada di atas kayu pembakaran jenazah? Mengapa mereka tidak mempelajari Buddho selagi mereka muda dan sehat? Kini, dengan nafas yang tidak teratur, kalian ke atas dan berkata, “Ibu… Buddho, Buddho!” Mengapa membuang-buang waktu kalian? Kalian hanya akan membingungkan ibu kalian, biarkanlah dia pergi dengan damai.

Orang-orang tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah-masalah di dalam batin mereka, mereka tidak memiliki tempat berlindung. Mereka mudah marah dan memiliki banyak sekali nafsu keinginan. Mengapa demikian? Karena mereka tidak memiliki tempat berlindung.

Ketika orang baru saja menikah, mereka dapat hidup bersama-sama dengan baik, tetapi setelah berusia lima puluh tahun atau lebih, mereka tidak dapat lagi mengerti satu sama lain. Apapun yang dikatakan istri, sang suami menganggapnya tidak dapat ditolerir. Apapun yang dikatakan suami, sang istri tidak akan mau mendengarkannya. Mereka saling mengabaikan.

Sekarang, saya hanya bisa berbicara karena saya tidak pernah berkeluarga sebelumnya. Mengapa saya tidak pernah berkeluarga? Hanya memperhatikan kata ini “rumah tangga/household” (note: Ada sebuah permainan kata-kata dalam bahasa Thai di sini yang berdasarkan pada kata yang artinya keluarga – krorp krua – yang secara harfiah berarti “bingkai dapur” atau “lingkaran penggorengan.” Dalam terjemahan bahasa Inggris, kami memutuskan untuk mengambil kata Inggris yang cocok, daripada mencoba menerjemahkan secara harfiah dari bahasa Thai). Saya memahami apa itu sesungguhnya. Apa yang dimaksud “rumah tangga/household” itu? Ini adalah sebuah “hold/pegang/tahan”: jika seseorang mengambil tali dan mengikat kita ketika kita sedang duduk di sini, bagaimanakah rasanya? Itu disebut “dipegang/ditahan.” Bagaimana pun rasanya, “dipegang/ditahan” adalah seperti itu. Ada sebuah lingkaran pembatas. Yang pria hidup di dalam lingkaran pembatasnya sendiri, dan yang wanita juga hidup di dalam lingkaran pembatasnya sendiri pula.

Ketika saya membaca kata ini “rumah tangga/household”… ini adalah sesuatu yang berat. Kata ini bukanlah hal yang sepele, ia benar-benar seorang pembunuh. Kata “hold/pegang” adalah suatu lambang dari penderitaan. Kalian tidak dapat ke mana-mana, kalian harus tinggal di dalam lingkaran pembatas.

Sekarang, kita tiba pada kata “house/rumah.” Ini artinya “sesuatu yang mengganggu.” Pernahkah kalian memasak cabai? Seisi rumah tercekik dan bersin-bersin. Kata ini “rumah tangga/household” menimbulkan kebingungan, ia sungguh tidak layak untuk itu. Oleh karena kata inilah, saya bisa ditahbiskan dan tidak melepaskan jubah. “Rumah tangga/household” sungguh menakutkan. Kalian terhenti dan tidak dapat ke mana-mana. Masalah dengan anak-anak, dengan uang dan semua yang lain. Tetapi ke mana kalian bisa pergi? Kalian sudah terikat. Ada anak laki-laki dan perempuan, perdebatan-perdebatan yang berlebihan sampai pada hari kematian kalian, dan tidak ada tempat lain untuk pergi, tidak peduli betapa beratnya penderitaan. Air mata menetes dan terus menetes. Air mata ini tidak akan pernah berhenti menetes dengan “rumah tangga” ini, kalian tahu. Jika tidak ada rumah tangga, kalian mungkin dapat menghentikan tetesan air mata ini, namun tidak sebaliknya.

Pertimbangkanlah hal ini. Jika kalian belum menemukannya, kalian bisa melakukannya di kemudian hari. Beberapa orang sudah mengalaminya sampai pada tingkatan tertentu. Beberapa di antaranya sudah kehilangan akalnya… “Akankah saya menetap atau pergi?” Di Wat Pah Pong, terdapat sekitar tujuh puluh atau delapan puluh gubuk (kuti). Ketika gubuk-gubuk itu hampir penuh, saya meminta seorang bhikkhu yang mengurusnya untuk membiarkan beberapa gubuk tetap kosong, jikalau ada seseorang berdebat dengan pasangannya… Dan tentu saja, dalam waktu yang tidak lama seorang wanita akan tiba dengan tas-tasnya… “Saya sudah muak dengan dunia ini, Luang Por.” “Whoa! Jangan katakan itu. Kata-kata itu sungguh berat.” Lalu, sang suami datang dan berkata bahwa dia juga sudah muak. Setelah dua atau tiga hari di vihara, kejemuan mereka akan dunia akan segera lenyap.

Mereka bilang mereka muak, tetapi mereka hanya menipu diri sendiri. Ketika mereka masuk ke dalam kuti dan duduk sendirian dengan tenang, setelah beberapa saat pikiran-pikiran akan muncul… “Kapan ya istriku akan datang dan mengajakku untuk pulang ke rumah?” Mereka tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apa yang disebut “mereka jemu akan dunia” ini? Mereka merasa sedih akan sesuatu dan berlarian datang ke vihara. Di rumah segalanya kelihatan salah… sang suami salah, sang istri juga salah… setelah berpikir dengan tenang selama tiga hari… “Hmmm, istriku memang benar, ternyata diriku lah yang bersalah.” “Suamiku benar, saya tidak seharusnya begitu bersedih hati.” Mereka bertukar tempat. Beginilah ceritanya, itulah sebabnya mengapa saya tidak menanggapi dunia ini terlalu serius. Saya sudah tahu kelebihan dan kekurangannya, itulah mengapa saya memilih hidup menjadi seorang bhikkhu.

Saya ingin mempersembahkan pembicaraan hari ini kepada kalian semua untuk dijadikan pekerjaan rumah. Apakah kalian berada di sawah atau bekerja di kota, ambillah kata-kata ini dan pertimbangkanlah… “Mengapa saya dilahirkan? Apa yang bisa saya bawa bersama saya?” Tanyakan diri kalian berulang-ulang. Jika kalian menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini pada diri sendiri, seringkali kalian akan menjadi bijaksana. Jika kalian tidak merenungkan hal-hal ini, kalian akan tetap bodoh. Mendengarkan pembicaraan hari ini, kalian akan bisa mendapatkan beberapa pemahaman, jika bukan sekarang, mungkin pada saat kalian tiba di rumah. Barangkali sore ini. Ketika kalian sedang mendengarkan pembicaraan ini, segala sesuatunya pun ditaklukkan, tapi mungkin ada yang sedang menunggu kalian di dalam mobil. Ketika kalian masuk ke mobil, ia bisa saja ikut masuk dengan kalian. Ketika kalian tiba di rumah, ia akan menjadi jelas… “Oh, itulah yang Luang Por maksudkan. Saya tidak mampu memahaminya sebelumnya.

Saya rasa cukup sekian untuk hari ini. Jika saya berbicara terlalu lama, tubuh yang tua ini menjadi lelah.

Evam

Catatan: Ceramah ini ditujukan kepada umat awam yang berkunjung ke Wat Tham Saeng Phet (Vihara Gua Cahaya Intan), pada Masa Vassa tahun 1981, sesaat sebelum kesehatan Ajahn Chah memburuk.

Sumber:The Teachings Of Ajahn Chah”, Sub judul: “Living Dhamma – Why Are We Here ?
Oleh: Y.M. Ajahn Chah
Diterjemahkan oleh: TN

Rekomendasikan

 
Tersimpan di Artikel Buddhis, Umum Dengan label: ,