Arsip Artikel

Anatta – Tanpa Inti dan Bukan Diri

Anatta (Pali: anattā; Skt: anatman) adalah karakteristik atau sifat “tanpa inti” atau “bukan diri” atau “bukan entitas sejati” yang ada pada semua keberadaan/segala sesuatu yang ada. Anatta merupakan salah satu dari tiga karakteristik keberadaan atau tiga corak umum (Pali: tilakkhaṇa,

Dengan label:

Menjadi Ada dan Lahir Kembali (Punabbhava dan Punaruppatti)

Menjadi ada kembali (Pali: punabbhava; Skt: punarbhava; Jawa: tumimbal) adalah keberadaan, keberlanjutan atau berlangsungnya kembali kehidupan makhluk  di alam kehidupan (Pali, Skt: saṃsāra – lingkaran hidup dan mati) setelah mengalami kematian. Menjadi ada kembali, dalam bahasa Pali adalah punabbhava yang

Paṭiccasamuppāda dan 12 Nidāna

Kemunculan ketergantungan (Pali: paṭiccasamuppāda; Skt: pratītyasamutpāda) adalah prinsip dari kemunculan sesuatu yang tergantung pada keberadaan sesuatu yang lainnya. Paṭiccasamuppāda atau Kemunculan Ketergantungan merupakan salah satu ajaran yang terpenting dalam Agama Buddha. Dalam Mahāhatthipadopama Sutta, Yang Arya (Y.A.) Sariputta, menyampaikan bahwa

Tiga Permulaan Kejahatan (akusalamūla)

Tiga permulaan kejahatan (Pali: ti akusalamūla; Skt: tri akushalamūla) atau tiga awal kejahatan adalah tiga hal yang mula-mula muncul mengawali perbuatan jahat atau tidak bermanfaat. “Demikian telah dikatakan oleh Sri Bhagava … Para bhikkhu, tiga inilah permulaan kejahatan. Apakah ketiganya

Kamma (Karma) – Perbuatan

Kamma (bahasa Pali) atau karma (bahasa Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Dalam Nibbedhika Sutta Buddha Gotama memperjelas bahwa yang disebut dengan kamma adalah kehendak (Pali, Skt: cetanā) ”Para bhikkhu, kehendak adalah yang Kusebut sebagai kamma. Setelah berkehendak, seseorang bertindak melalui