Tiga Permulaan Kejahatan (akusalamūla)

Tiga permulaan kejahatan (Pali: ti akusalamūla; Skt: tri akushalamūla) atau tiga awal kejahatan adalah tiga hal yang mula-mula muncul mengawali perbuatan jahat atau tidak bermanfaat.

“Demikian telah dikatakan oleh Sri Bhagava …
Para bhikkhu, tiga inilah permulaan kejahatan. Apakah ketiganya itu? Permulaan kejahatan keserakahan (lobha), permulaan kejahatan kebencian (dosa), dan permulaan kejahatan kedelusian (moha). Inilah para bhikkhu, tiga permulaan kejahatan.  Demikian hal ini telah dijelaskan oleh Sri Bhagava. Dalam hubungannya dengan ini Ia berkata:
Keserakahan, kebencian dan kedelusian, yang muncul dari dalam dirinya, akan merugikan orang yang berpikiran jahat, seperti buah bambu menghancurkan tumbuhnya pohon itu sendiri.” (Mūla Sutta)[1]

Keserakahan (Pali: lobha; Skt: rāga/lobha; Indonesia: loba)
Keserakahan adalah kehausan atau ketagihan terhadap kehadiran atau keberadaan sesuatu dengan ingin memilikinya atau mengalaminya terus-menerus, berkali-kali, dan lebih dari yang telah ada. Dengan kata lain, adanya penarikan yang sangat terhadap sesuatu.

Ketika seseorang serakah, dikendalikan oleh keserakahan, dengan pikiran dikuasai oleh keserakahan, maka ia mengakibatkan penderitaan bagi orang lain dengan dalih palsu, dengan membunuh, dengan memenjarakan, dengan merampas, dengan mencela, atau dengan mengusir.[2]

Setiap orang pasti memiliki rasa suka akan sesuatu. Ini adalah hal yang wajar. Tetapi rasa suka dengan keinginan memiliki atau mengalami satu hal yang terus-menerus dan ingin lebih dan lebih, menjadi tidak wajar, dan  inilah lobha.

Sebagai contoh keserakahan: karena kehausan yang sangat terhadap kehidupan mewah, seseorang menginginkan kehidupan yang mewah terus-menerus dan lebih mewah lagi. Dan agar keinginannya untuk hidup lebih mewah lagi tercapai, ia melakukan berbagai cara termasuk melakukan tindakan kejahatan seperti korupsi hingga membunuh.

Untuk mencegah timbulnya lobha dalam diri, maka perlu:
– Menggunakan perhatian penuh/kesadaran penuh/kewaspadaan (Pali: sati; Skt: smṛti).
– Berusaha untuk tidak selalu menuruti keinginan.
– Merenungkan untung dan rugi dengan menggunakan kebijaksanaan (Pali: paññā; Skt: prajñā).
– Membangkitkan Hiri (malu berbuat jahat) dan Ottapa (takut berbuat jahat).
– Mengembangkan Dhamma yang berlawanan dengan lobha, seperti berdana. Dalam Ajita­māṇava­pucchā (bagian dari Soḷasa Pañha)[3] Sri Buddha menyampaikan bahwa mereka yang mendalami Dhamma dalam dirinya tidak ada keserakahan dalam kenikmatan indra

Kebencian (Pali: dosa; Skt: dveṣa)
Kebencian adalah kehausan atau ketagihan terhadap ketidakhadiran atau ketidakberadaan sesuatu dengan ingin tidak memilikinya atau tidak mengalaminya terus menerus, berkali-kali, dari yang telah ada. Dengan kata lain, adanya penolakan yang sangat terhadap sesuatu.

Ketika seseorang penuh kebencian, dikendalikan oleh kebencian, dengan pikiran dikuasai oleh kebencian, maka ia mengakibatkan penderitaan pada orang lain dengan dalih palsu, dengan membunuh, dengan memenjarakan, dengan merampas, dengan mencela, atau dengan mengusir.[2]

Adalah wajar bahwa setiap orang pasti memiliki rasa tidak suka dengan sesuatu. Tetapi rasa tidak suka dengan keinginan agar sesuatu tersebut menjadi tidak hadir atau tidak ada (musnah) terus-menerus dan ingin lebih dan lebih, menjadi tidak wajar, dan  inilah dosa.

Dosa ini dapat diibaratkan dengan sebuah titik api yang menyala, dan bila tidak segera dipadamkan maka akan menjadi kobaran api yang lebih besar, sehingga dapat merusak segalanya, dalam hal ini merusak pemikiran, kesehatan fisik dan mental, bahkan dapat membuat seseorang menjadi pembunuh.

Sebagai contoh: karena tidak menyukai seekor lalat, seseorang menginginkan lalat tersebut benar-benar menyingkir dari hadapannya, musnah, hilang, maka ia melakukan berbagai cara seperti menepisnya bahkan membunuhnya hingga lalat tersebut benar-benar tidak ada lagi di hadapannya .

Untuk menghindari timbulnya dosa dalam diri, maka diperlukan menjalankan lima kemoralan (Pali;Skt: pañcasīla)

Kedelusian (Pali; Skt: moha)
Kedelusian adalah pikiran atau pandangan yang tidak berdasar pada kebenaran apa adanya dan bersifat khayal, sehingga tidak dapat membedakan yang baik dengan yang buruk, yang bermanfaat dengan yang tidak bermanfaat. Kedelusian juga disebut sebagai kebodohan batin (Pali: avijjā; Skt: avidyā).

Ketika seseorang penuh kedelusian, dikendalikan oleh kedelusian, dengan pikiran dikuasai oleh kedelusian, maka ia mengakibatkan penderitaan pada orang lain dengan dalih palsu, dengan membunuh, dengan memenjarakan, dengan merampas, dengan mencela, atau dengan mengusir.[2]

Seseorang yang memiliki kebodohan batin atau kegelapan batin belum dapat menembus arti dari Empat Kebenaran Arya, Tiga Karakteristik Keberadaan, Hukum Kamma, dan Kemunculan yang Bergantungan.

Jika diibaratkan, moha seperti kegelapan yang membuat seseorang tidak dapat berbuat-apa-apa bahkan hanya dapat berbuat kesalahan.

Sebagai contoh: karena pandangannya yang bersifat khayal tentang sebab dan akibat perbuatan karena belum memahami Hukum Kamma dengan baik, seseorang melakuan pencurian hanya terhadap seorang hartawan untuk dibagian kepada kaum miskin. Ia menganggap mencuri hanya dari orang kaya adalah hal yang baik dan sah-sah saja sehingga ia melakukan pencurian tanpa merasa bersalah.

Untuk mencegah timbulnya moha dalam diri, maka cara terbaik adalah mengembangkan kebijaksanaan (Pali: paññā; Skt: prajñā). Kebijaksanaan dapat dicapai dengan berbagai macam cara, seperti banyak membaca, belajar, dan mendengar.

Dari ketiga permulaan kejahatan atau tiga akar kejahatan (akusalamūla) inilah maka seseorang berbuat jahat.

– Selesai –

Catatan:

[1] Mūla Sutta, Khuddaka Nikāya 4.3.1.1 (Khuddaka Nikāya: Itivuttaka: Tikanipāta: Paṭhamaavagga 1 {Itivuttaka 50} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.
[2] Akusalamūla Sutta, Aṅguttara Nikāya 3.69 (Aṅguttara Nikāya: Tikanipāta: Mahāvagga 9 {Tikanipāta 70} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.
[3] Ajita­māṇava­pucchā, Khuddaka Nikāya 5.5.2 (Khuddaka Nikāya: Sutta Nipāta: Pārāyanavagga 2: {Sutta Nipāta 5.2} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD), Kanon Tipitaka Pali.

Disusun oleh: Bhagavant.com

Rekomendasikan

 
Tersimpan di Ajaran Dasar